Pernah tahu lagu 'Kupu-Kupu Malam', 'Bing'?

Kedua lagu manis yang memotret kenyataan itu dinyanyikan oleh GRACE SIMON. Sepanjang tahun 70an, Grace banyak mengeluarkan hits, dan tampil di satu satunya televisi di republik ini saat itu, TVRI.

Tahun 1979, Grace Simon merilis album berjudul angka tahun tersebut. Ia berkolaborasi dengan beberapa musisi termasuk Yan Antono sebagai penata musik. Nama Abadi Soesman juga tercatat mewarnai album ini. Dua lagu yang saya sebutkan di atas, tentunya tidak termaktub dalam album ini.

Tidak ada gaya vokal yang berteriak-teriak mengotot-ngotot dan melengking ala kebanyakan Rocker 70an di sini, yang ada ialah irama rock yang manis yang sangat mendominasi warna album ini. Beberapa bernada progresif, sebagiannya sangat manis seperti era band-band macam The Marvelettes, juga The Ronettes, eh.. sentuhan 'hippy' ala Jefferson Airplane juga kental deh.

Berbeda dengan versi aslinya, lagu 'Panggung Sandiwara' dimainkan dengan sangat manis di album ini. Satu hal yang paling saya suka dari album ini adalah sampulnya, Epic banget!

Di album ini Grace juga menciptakan lagu sendiri, bersama Minggus Tahitoe ia menulis hits andalan 'Yang Paling Indah'.
Saya menyukai Grace Simon bukan hanya sebagai penyanyi, tapi juga aktris. Beberapa filmnya yang pernah saya tonton adalah 'Cincin Berdarah', 'Benyamin Spion 025', 'Ratapan Anak Tiri', juga dua film favorit saya sepanjang zaman; 'Benyamin Koboi Ngungsi', 'Benyamin Tukang Ngibul'.

Ibarat tubuh manusia, kaset pita juga memiliki tubuh, jeroan, dan ruh. Nah, salah satu kaset favorit saya, GRACE SIMON 79 ini sedang sekarat dan membutuhkan operasi bedah saraf.

Sebagai dokter bedah kaset, saya menggunakan metode konvensional, yakni bedah terbuka dimana saya harus membuka tengkorak kaset untuk menjangkau bagian dalam tubuh kaset itu sendiri. Metode ini tidak perlu menggunakan mikroskop, endoskop, dan sejenisnya, cukup hanya obeng plus dan selotip. Karena dua baut di bagian bawah sudah dol, maka dengan terpaksa saya membongkar dengan sedikit kekerasan.

Sebelumnya saya juga ingin mempraktikkan Ilmu Ragasukma, yakni teknik melepas sukma keluar dari tubuh fisik yang bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti: meditasi, dzikir, dan olah nafas. Nama lain ragasukma adalah: meraga sukma, rogosukmo, ngrogo sukmo, atau rogo sukmo, yang pada intinya adalah melepas pita keluar dari badannya, lalu memindahkannya ke badan kaset lainnya.

Namun untuk menjaga keotentikan, saya memilih untuk tetap menggunakan tubuh yang lama. Alhamdulillah, Puji Tuhan kaset ini sudah pulih membaik dan masih bisa dinikmati dengan seksama. (*)

Sedari kecil saya sangat menyukai lagu-lagu Chrisye. Di setiap era, lagu-lagu Chrisye selalu menemani. Dari jaman bujang dan perawan, Bokap Nyokap selalu beli album apapun yang ada Chrisye-nya. Koleksi mereka bisa dibilang lengkap. Tapi seiring waktu, ada beberapa yang rusak dan hilang entah kemana. Baru-baru ini aja saya mulai berburu lagi karya-karya Chrisye terutama dalam bentuk kaset pita.




Karya-karya Chrisye yang paling saya suka itu yang ada sentuhan Yockie (Jockie Suryoprayogo)- nya. Sepanjang 1977-1984 Chrisye dan Yockie merupakan sebuah dwitunggal. Dalam berkarya bersama, keduanya mengalir begitu saja. Dari mulai lagu-lagu ciptaan Yockie dengan pendekatan easy listening hingga melebar menyentuh komposisi yang lebih progressive atau bahkan sedikit ‘rock’, Chrisye mampu menyanyikannya dengan baik. Tidak melulu bercerita tentang percintaan dua insan, karya mereka juga banyak mengisahkan kehidupan perkotaan dan fenomena urban lainnya, termasuk dekadensi anak muda, hingga cocaine, morfin, dan ganja.



Jejak kolaborasi mereka dimulai sejak kesuksesan lagu "Lilin-Lilin Kecil" di album kompilasi LCLR 1977, sejak itu Chrisye di'mbribik' Pramaqua Records dan menawarkan untuk merekam album perdananya. Chrisye dan Yockie pun merekam album 'Jurang Pemisah'.

Di album bernuansa Prog Rock ini, Chrisye mengisi vokal pada tujuh lagu, ia juga memainkan bass, sementara Jockie memainkan kibor, gitar dan drum, serta mengisi vokal pada tiga lagu. Ian Antono dan Teddy Sujaya memainkan gitar dan drum masing-masing untuk lagu "Mesin Kota" dan "Dia".
Album yang ini mengangkat tema-tema lingkungan dan politik ini menceritakan diskriminasi kelas yang menyebabkan jurang antara strata-strata sosial yang berbeda. Lagu "Jeritan Sebrang" dianggap sebagai potret dari pendukung Republik Maluku Selatan. Menurut Yockie, Jurang Pemisah merupakan sebuah potret realita sosial. 


Secara pasar, penjualan album ini terbilang jelek alias tidak laku. Dalam biografinya, Chrisye berkomentar bahwa Jurang Pemisah penjualannya "hangat-hangat tahi ayam". Meski abum ini tidak mendapat pujian setelah dirilis, namun saat ini 'Jurang Pemisah' merupakan salah satu album yang diburu para kolektor. Beruntung, gue punya dua tuh. 😂😝

Selanjutnya bersama Eros Djarot, Dwitunggal tersebut mengerjakan album 'Badai Pasti Berlalu', tercatat Fariz RM turut mengisi part drum untuk album fenomenal ini. Awalnya mereka tidak mengira bahwa album yang merupakan soundtrack untuk film berjudul sama ini meraih kesuksesan yang hebat. 'Badai Pasti Berlalu' merupakan album revolusioner yang menggiring selera musik pasar dari pop melankolis ke pop kreatif.


Seperti yang pernah ditulis Yockie di sebuah portal, kala itu pedagang atau industri tak mempunyai peran apa-apa untuk menentukan bentuk lagu yang akan mereka ciptakan. Dwitunggal ini relatif dengan leluasa bisa bermusik sesuka-suka hati. Mereka juga menjalani pergaulan anak muda di masa-masa itu dengan segala kerendahan hati tanpa ada yang merasa “lebih” diantaranya.
Namun, setelah industri mulai merangkul mereka berdua, dan bertepatan dengan menanjaknya usia dimana keduanya sudah mulai berpikir serius untuk menempuh masa depan masing-masing. "Tidak adanya sebuah “konsep” yang bisa dijadikan sandaran/rujukan kerjasama kedepan, telah membuat kami mulai terpisah pisah dan tanpa disadari mulai mementingkan kepentingan masa depan sendiri-sendiri," tulis Yockie.

Sebagai anak muda saat itu, Yockie mengaku memang cenderung lebih lambat menyadarinya, atau memang begitukah dan seperti itukah hukum alam yang pasti akan berlangsung. "Semoga saja tidak dan semoga saja pengalaman pengalaman seperti diatas bisa bermanfaat sebagai masukan bagi generasi muda sekarang," kata Yockie.

Yockie mulai merasa kehilangan Chrisye semenjak tahun 1983, dimana kerja kreativitas keduanya praktis terputus sama sekali. "salah satu faktor penyebabnya adalah mengangkangnya industri di atas kepala almarhum (Chrisye) dan saya. Karena itu pula saya terpaksa masih sering menyanyikan sendiri lagu yang saya ciptakan. bukan karena saya tidak tau diri bahwa suara saya “nggak enak dikuping”, atau saya pengen populer jadi penyanyi . Tetapi itu semua saya lakukan lebih karena saya belum menemukan dan masih mencari karakter suara dan cita rasa seperti yang dimiliki Chrisye , tidak harus ‘plek’ sama namun minimal pendekatan ‘citarasa’ nya sama," tutup Yockie. (*)



Me and Yockie himself
Mus Mujiono adalah legenda hidup musik Indonesia. Musisi kelahiran Surabaya, 15 Maret 1960 ini dikenal dengan konsistensinya di jalur musik jazz. Sebagai penyanyi solo, Mus Mujiono telah menelurkan tujuh album. Ia menguasai hampir semua alat musik, dari keyboard, gitar, drum, dan saksofon. Satu di antara lagunya yang 'evergreen' adalah ‘Arti Kehidupan’.  

"Kau menjelma seperti khayalan
Kau impian dalam kenyataan
Perjalanan yang penuh likunya
Kini t'lah tiba di sisimu selamanya

Engkau bukan yang pertama
Tapi pasti yang terakhir, Di cintamu kutemui arti hidupku"

sumber foto: tribunnews.com

Beberapa kali saya berkesempatan menyaksikan konser beliau secara langsung, biasanya sih di pagelaran musik jazz. Lagu-lagu beliau, termasuk musisi di zamannya; Oddie Agam, Dheddy Dhukun, Dian PP, Utha Likumahuwa sangat akrab di telinga saya sejak kecil. Kenapa, ya pastinya karena kedua orangtua saya mendengarkan musik mereka. Di sebuah restoran di kawasan utara kota Jogja, saya berkesempatan ngobrol ngalor-ngidul dengan Mus Mujiono. Sosoknya tenang, santai, dan pastinya ramah. 

Setelah bersalaman, tak lupa saya berbasa-basi mengatakan kalau saya mendengarkan musiknya sejak kecil, kita juga pernah bertemu beberapa tahun lalu di sebuah acara jazz di Jogja, “oh iya? wuah sudah lama juga ya?” ujarnya lalu tersenyum.
“jangan tanya soal kehidupan pribadi ya, kita ngobrol soal musik aja.” katanya kemudian tertawa.
“Tenang aja om, saya juga gak tertarik dengan urusan dapur orang lain kok,” kata saya, lalu kami tertawa.


Tanpa kebanyakan basa-basi, pertanyaan pertama saya adalah tentang album ‘Joni Teler’ milik Junaedi Salat. Di album itu Mus Mujiono mengisi semua bagian gitar. Namun sayang seribu sayang, beliaunya mengaku ‘lupa’ dan nggak inget sama sekali tentang cerita di balik album yang buat saya cukup ‘nyeleneh’ dan ‘brutal’ di zamannya. Ah, mungkin saja beliau ‘malu’ dan gak ingin membuka aib masa lalu di era rokok, alkohol dan narkotika masih bebas direpresentasikan di sebuah karya musik. Tapi, nggak apa-apa saya pun melanjutkan perbincangan soal dunia musik saat ini. 

*Ulasan khusus tentang Joni Teler bakal saya kupas di catatan selanjutnya.

Perbincangan rada serius pun dimulai dengan banyaknya festival jazz di kota-kota besar di Indonesia. Mus Mujiono menyesalkan ada beberapa festival jazz yang dianggapnya melenceng, lari, dan keluar jalur. “Kita banyak sekali kecolongan festival (jazz) yang kabur idealismenya, kok bisa ada banyak musisi di luar jazz yang bisa main di festival jazz, ini mau bikin festival atau cuma mau cari duit sih,” kritiknya santai.
Menurut Mus Mujiono sebuah festival harus memiliki kuratorial yang jelas. Festival jazz juga harus bisa mendatangkan penonton-penonton baru. “Kalau di Jogja idealisnya masih kuat banget, pelaku-pelakunya mumpuni, bukan sekedar anak kemarin sore,” tambahnya.

Mus Mujiono menyebutkan beberapa nama musisi yang ia acungi jempol. Sebagai musisi, menurutnya, mereka mampu menjaga posisinya, mereka adalah; Tohpati, Indro Hadjodikoro, dan Dewa Budjana.

"Lantas, gimana sih bedanya musisi zaman sekarang, sama di zaman om?” tanya saya.

Mus Mujiono mengerucutkan pembahasan ke soal pasar musik. Menurutnya di era digital sekarang ini, market atau pasar musik jadi berantakan. “kita nggak bisa lagi jualan CD sekarang, musisi dan pencipta lagu juga semakin sulit mengurus royalti, kalau marketnya terus begini ya jadi nggak berkembang,” tegasnya.

sumber foto: radio volare

Menurutnya musisi sekarang sulit untuk dikenal secara nasional, karena media distribusinya sudah buram. “Kasihan musisi sekarang, kalau dulu kan ada televisi, radio, jadi sekarang ya harus pinter-pinter bagaimana mendistribusikan karya mereka,” kata musisi yang mendalami jazz dari Jun Sen, gitaris jazz terkemuka asal Surabaya seangkatan Bubi Chen. Karena itu bersama Reno Castello anaknya yang juga musisi, Mus Mujiono selalu berusaha membuat musik di studio rumah mereka. “Studio di rumah saya harus selalu bernafas, kalau sampai berhenti ya bakal rugi banyak,” katanya.

Mus Mujiono mengaku beruntung memiliki beberapa tembang hits yang masih menempel di generasi saat ini. Seperti yang kita tahu, lagu ‘Arti Kehidupan’, ‘Keraguan’, ‘Tanda-Tandanya’ banyak disuka baik kalangan tua, muda, pendengar musik jazz, maupun pop. Namun yang menjadi tantangannnya adalah bagaimana selalu membuat arasemen yang berbeda setiap kali hits tersebut dibawakan di hadapan penonton. 
“Dulu kan saya terlalu melebar, mulai solo karir, membuat 7 Bintang, dan sebagainya, jadi saya punya banyak segmen, jadi bisa main di acara pop, jazz, acara orang tua, anak muda, orang kantoran, dan itu cukup menguntungkan,” ucapnya lalu tersenyum.

****
Bicara soal Yogyakarta, bagi Mus Mujiono kota ini merupakan kota kedua setelah Surabaya. Di era 70-an ia pernah tinggal di Jogja selama beberapa tahun, tepatnya di daerah Gowongan. Di Jogja, Mus Mujiono juga pernah bergabung dengan kelompok Kartika Sapta, “Waktu itu saya selalu nongkrong di Pengok, dan bermusik sama anak muda di sana,” katanya.

Sebagai musisi, karir Mus Mujiono dimulai dari kota kelahirannya, Surabaya. Ia besar di keluarga musisi. Sebagaimana kakaknya, Mus Mulyadi, Ayahnya adalah musisi keroncong. Sejak kelas enam SD, Mus sudah belajar gitar. Salah satu gurunya adalah Harris Sormin dari group band AKA. Pada usianya yang baru 18 tahun, ia sudah rekaman dengan bandnya, De Hand’s. Mereka sangat terkenal terutama dengan lagu "Hallo Sayang". Sayangnya tak lama kemudian, mereka bubar jalan.


Suatu ketika di tahun 80-an, ia mendapat tawaran ke Jakarta dan bermain di beberapa ‘nite club’ di sana. Di ibukota, Mus Mujiono membentuk band bernama Jakarta Power Band. Selang beberapa tahun, beberapa personel band tersebut hengkang dan pindah dari Jakarta, namun Mus tetap bertahan di sana hingga mendapat tawaran membuat solo album. Tawaran dari label Aquarius tersebut disanggupinya asalkan konsep albumnya sesuai dengan keinginannya. “saya mau asalkan konsepnya jazz dan semua musisi top harus ikutan di album saya,” katanya mengenang saat itu.


Jazz menjadi pilihan utamanya, karena sewaktu tinggal di Surabaya ia selalu mengikuti kakaknya bermain keroncong dan langgam jawa. Selain itu pilihannya pada musik jazz karena kebanyakan gitaris bermain musik rock dengan mengeksplorasi segala macam efek aneh-aneh yang baru ditemukan kala itu. Mus Mujiono lebih tertarik pada permainan gitar George Benson, karena kesederhanaan permainannya. Jika gitaris lain sibuk dengan efek-efek gitar, Mus Mujiono terinpirasi pada George Benson yang hanya memakai mulut saja. Ia pun mulai mendalami teknik scating yakni membunyikan nada-nada yang dimainkan gitar dengan menggunakan suara mulut, alias melodi gitar featuring melodi bacot. “Saya terinspirasi oleh George Benson, bahkan sampai sekarang,” ungkapnya.

Bagi seorang Mus Mujiono, jazz bukanlah musik yang gampang. Jazz itu punya bahasanya sendiri, meskipun memainkan lagu yang sama, tapi beda pemain, maka berbeda juga bahasanya.
Menurutnya jika ingin menjadi musisi jazz, ya harus selalu mendengarkannya, latihan tanpa putus. 


“Loh kamu main musik juga, punya band?” kata Mus pada saya.
“hehe.. iya om, saya main Rockabilly!” balas saya.

“Oh, kayak The Changcuters ya,” tanyanya lagi.
"..glek… “ (saya menelan ludah lalu menyeruput green sands campur lemon yang sudah habis setengah gelas. 

“Alhamdulillah bukan om, musik saya seperti Elvis, Gene Vincent, hingga Stray Cats,” 

“Pakai bass betot juga, wow gila,” katanya.

Hehe tapi tenang aja om, sebagaimana yang tertera pada "Rock and Roll Music”, lirik lagu milik Chuck Berry yang dipopulerkan lagi oleh The Beatles, "I got no kick against modern jazz".


"I have no problems with modern jazz, I’ve no complaints about it. (*)

pagi-paginya abis ngobrol ngalor ngidul
 justru ada yang komplain... hehehe




Sekira 2013 lalu, Agib dan Fendee mengajak Kiki Pea untuk membentuk band dengan nuansa Punk Rock 70an. Kala itu beberapa kali Kiki diajak sebagai penyanyi tamu untuk band mereka NYK Guns. Namun rencana tersebut ternyata hanya di atas awang-awang, karena kemudian Agib memilih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di ibu kota dan nyaris meninggalkan semua aktivitas bermusiknya.

Bertahun-tahun berlalu, Agib kembali ke Jogja, lantas menghubungi Kiki dan Fendee, serta menggaet Tutoet sebagai penggebuk drum. Wacana band ini akhirnya menjadi nyata setelah keempat lelaki paruh baya ini melakukan sesi latihan untuk perdana di Gegana MUSIC Studio.
  





ROKET ialah proyek musik senang-senang yang personelnya masih bermusik di band mereka masing-masing. Selain aktif sebagai pencabik bass di grup utamanya Alterego Jogja, Agib juga aktif di beberapa sesi proyek musik lainnya, seperti Momo dan Parabiru. Ia juga masih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di Jogja.

Sementara itu Fendee selain menjadi pelatih anjing ras juga masih bermain distorsi bersama RochesterMusic. Tutoet yang merupakan drumer untuk Everlong Indonesia ini juga bekerja sebagai buruh audio. Sedangkan Kiki masih menggelinjang bersama band Rockabilly-nya Kiki & The Klan - K.K.K sembari bekerja sebagai jurnalis partikelir.






Secara musikal, ROKET amat terpengaruh oleh band-band Amerika seperti; Johnny Thunders & The Heartbreakers, Iggy & The Stooges dan tentu saja RAMONES! Dalam waktu dekat, band ini bakal meroket di rupa-rupa gigs dan ragam panggung hiburan anak muda.

ROKET segera merilis materi baru yang emua nuansa musiknya bakal dieksekusi secara lugas, keras, dan melesat cepat sebagaimana roket. Wusss! 🚀




Agib Roket (@agibtanjung ) . Bekerja sebagai jurnalis penuh waktu di media online. Masih aktif mencabik bass untuk @alterego_band , @momodanparabiru @nykguns. Pernah pula membentuk dan membantu ragam proyek musik lainnya seperti; Illegal Motives (reunion), #StudioSession , Laquena, Safina Nadisa x Ari Hamzah, Captain Jack, End of Julia, Spermatozoid, Frank Legacy, CIS, Cannonball.



Kiki Roket (@kikiepea ) Bekerja sebagai Jurnalis Partikelir dan Videografer Amatir untuk media massa lokal dibawah naungan koorporasi multi nasional. Komikus dan propagandis di @komik.komuk. Bergelinjang bersama band Rockabilly @kikitheklan , dan band Top 40 #Chucky_RNR . Bersama @fendee_ pernah featuring untuk single @rokestermusic dan merekam satu single dengan nama The Gasped. Ia juga pernah tampil bersama @NYKGuns dan super mario band.


Fendee Roket (@fendee_) Pelatih anjing profesional ini juga bermusik bersama Rochester, kini @Rokestermusic. Sederet proyek musikal yang pernah dilakoninya; Laquena, Zues, Esnanas, @NYKGuns , @Alterego_band , @thefinnesttree , @Everlongindonesia , Rendramahatma, Cis, Gun boi, Alamanda project, BRE (reuni), Fighters, Gasped. Pernah menjadi gitaris @endanksoekamtidan memutuskan hengkang tahub 2001, pada 2006 menjadi additional gitaris untuk @sheilaon7setelah Sakti memutuskan hengkang. 

Tutoet Roket (@tutoet ) Bekerja sebagai buruh audio di Lahaneross, studio rekaman milik @erosscandra @sheilaon7. Bermain drum untuk @EverlongIndonesia. Pernah membantu sederet proyek musik, di antaranya; @thefinnesttree , Stereovila, Rendramahatma, Nancerah, Country Bikers, Cis, Dalin & Son, Alamanda project.


all photos by Hendy Winartha / Fndkbl - Stage Photographer


ROKET🚀
Fendy (gitar)
Tutoet (drum)
Agib (bass, suara latar)
Kiki (vokal)

Facebook ROKET YK
Instagram @roket_yk



Selasa, 29 Agustus 2017 lalu, saya terlibat di  ASCOLTACI, sebuah rangkaian seminar hasil penelitian yang diselenggarakan di Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. ASCOLTACI memiliki makna "dengarlah kami", yang jika disangkutkan dengan seminar tersebut, rangkaian kegiatan ini mengajak para peserta seminar untuk mendukung para peneliti muda dengan mendengarkan hasil dari temuan-temuannya.


Rangkaian ASCOLCATI yang digelar mengambil tema "Erotisme Dalam Film Horor Indonesia". Salain saya sebagai pembicara tamu juga ada pembicara utama, yaitu Clemens Felix Setyawan (Alumnus Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma). Felix merupakan seorang akademisi yang sempat meneliti mengenai hal tersebut untuk penelitian tesisnya. Dalam penelitiannya, Felix membatasinya dengan film-film horor Indonesia yang diciptakan dalam kurun waktu tahun 2009 hingga 2014 lalu untuk menjadi obyek penelitiannya.


Beberapa judul film yang menjadi obyek pengamatannya di antara lain seperti "Tetesan Darah Perawan", "Darah Perawan Bulan Madu", "Pacara Hantu Perawan", "Tali Pocong Perawan", "Perawan Seberang" dan masih banyak lagi karya-karya sinema horor yang menurutnya dicampurkan dengan unsur eksotisme.

"Kebetulan, menonton film horor juga menjadi salah satu kegemaran yang saya miliki. Beberapa hal yang saya pelajari dari film horor tersebut, selain musiknya, juga jalan ceritanya, dan terutama kengerian yang hampir selalu berbalut erotisme. Ada pertanyaan yang selalu mengganjal, yaitu bagaimana kengerian bertemu dengan erotisme dalam satu panggung?" papar Felix saat berbicara dalam seminar tersebut.

Seperti yang dicatat oleh Bem Andry (jurnalis Tribun Jogja), menurut pengamatan Felix tersebut, erotisme di era milenium menjadi sajian khas yang terkandung dalam film horor Indonesia. Berbeda dengan era-era sebelumnya, terutama di era tahun 1990-an. Menurutnya, film horor Indonesia lebih bercorak tradisional dengan karakter penokohan yang kuat. Misalnya saja seperti film-film yang dibintangi oleh mendiang Suzana.

"Film horor masa kini cenderung urban, di mana aspek struktur teks visual menjadi lebih penting dibanding alur cerita. Erotisme menjadi kian menonjol dengan bermacam sajian, terutama tubuh perempuan. Pembatasan dilakukan dengan memilih judul film yang menggunakan kata "perawan" sebagai reduksi atas obyek penelitian," tuturnya.


Bagi Felix, erotisme yang secara implisit dihadirkan dalam sajian film horor Indonesia merupakan suatu fenomena yang menarik sabagai kajian budaya. Menariknya di sini adalah melalui pengamatannya ia bisa bertamasya mempelajari berbagai aspek dan tidak hanya pada latar belakang produksi film horor, melainkan pada aspek lain yang melingkupinya.

"Seperti dimensi psikologis penonton, politik ekonomi media dalam konteks industri, estetika film, budaya dalam arti tidak hanya sebagai produk tapi aktualisasi, dan yang utama adalah dimensi psikoanalisis yag kemudian dipakai untuk membaca kaidah-kaidah emosional di dalam film horor erotis itu sendiri," pungkas Felix.

Kata Felix, indikasi erotisme dalam film horor Indonesia antara lain ditampakkan dengan adanya unsur seks, seperti adanya adegan bercinta, pakaian perempuan yang serba minim, kemolekan tubuh yang ditonjolkan hingga dialog-dialog secara langsung. Jika disaksikan secara kronologis, menurutnya sebelum tahun 2005 masih terlihat adanya idealisme dalam film horor Indonesia dengan tanpa menampilkan eksploitasi perempuan.

"Film horor masih mengedepankan kengerian belaka tanpa eksploitasi unsur seks. Namun mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, secara perlahan-perlahan mulai terdapat sajian erotisme perempuan dalam film horor Indonesia. Masa transisi ini terjadi mulai dari tahun 2006. Sedangkan untuk tahun 2014, sejauh yang saya teliti masih menjadi tanda tanya, karena baru ada tiga film horor yang beredar di pasaran," jelas Felix.

Selain itu, film horor Indonesia dalam jangka waktu yang diteliti olehnya, karya-karya horor yang tercipta selalu menunjukan model alur cerita yang anti klimaks. Jika dibandingkan dengan film horor tradisional, seperti halnya film-film yang dibintangi Suzana, atau seperti film "Misteri Gunung Merapi", "Si Manis Jematan Ancol", dan lainnya yang cenderung menciptakan alur klimaks. Dalam film horor Indonesia urban pascamilenium, menurutnya kejadiannya menjadi sebaliknya.

Misalnya saja dari alur, menurut Felix dapat dilihat dari skrip cerita yang tidak terlalu penting dalam film horor Indonesia pascamilenium yang cenderung fragmentatif perbabaknya. Ia pun menyaksikan saat melakukan penelitian, bahwa unsur erotisme dalam film horor Indonesia dari 2009 hingga 2013, kengerian yang terjadi di seputar erotisme rata-rata disajikan tidak lebih dari 30 detik.  


Sedangkan saya membuat makalah seminar yang menyajikan beragam fakta dari industri perfilman kita. Saya mewawancarai beberapa sineas dan produser film yang telah malang melintang di Industri ini, bahkan namanya sudah meroket ke jenjang internasional. Sebagai sumber sekunder, saya juga mengutip beberapa artikel yang pernah ditulis oleh beberapa orang yang saya anggap kompeten untuk berbicara perihal Erotisme Dalam Film Horor Indonesia. (*)


..... Bersambung
oleh: Kiki Pea

Dibandingkan dengan bentuk seni lainnya, film merupakan bentuk yang paling baru. Sedangkan dibandingkan media elektronik lainnya, film merupakan medium yang paling tua. Dalam menyampaikan pesan, film adalah medium yang paling komunikatif. Film adalah media komunikasi massa yang sangat penting untuk menyampaikan suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari–hari. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari teknologi dan beragam disiplin seni lainnya seperti fotografi, rekaman suara, seni rupa, teater, sastra, arsitektur, serta seni musik. Kehadiran film di tengah kehidupan manusia dewasa ini semakin penting dan setara dengan media lain.



Sayangnya tolak ukur keberhasilan produk film selama ini masih berorientasi pasar. Perfilman idealnya tidak sekadar digarap demi kepentingan ekonomi, tetapi juga mengarahkan film sebagai produk kebudayaan, pendidikan, dan pengetahuan visual. Jadi, kepentingannya tidak semata didasari untung-rugi pasar, tetapi lebih mengutamakan kemajuan pada sebuah kebudayaan.

Sebagaimana genre film lainnya, film horor juga merupakan gambaran masyarakat pada zamannya. Sejatinya film horor bukan sekadar gambaran rasa takut yang intim dari pribadi-pribadi.Film horor, dalam beberapa sisi, mampu merepresentasikan rasa takut masyarakat itu. Menurut Mirza Jaka Suryana, salah satu penggiat di Forum Lenteng dan kontributor tetap untuk ‘Jurnal Footage’, secara implisit film horor mempertunjukan ketakutan akan kondisi sosial politik yang tidak menentu, kediktatoran seorang penguasa, dan lain-lain. Sebab, rasa takut merupakan sesuatu yang asali. Hampir semua manusia memiliki rasa ini. Dengan film horor, rasa takut itu dapat dikembangkan sampai ke titik puncak. Darah, teriakan histeris, menjadi sangat identik dengan film horor.Penonton kemudian diberikan sugesti bahwa ketakutan yang tertuang dalam gambar itu adalah nyata.

Namun, seiring berjalannya waktu, dan komersialisasi ketakutan, muatan psikologis dan sosial politik hampir tidak tampak pada kebanyakan film horor. Menurut Jaka, penonton film horor kemudian hanya diberikan sesuatu yang ilusif, yang jauh dari kenyataan, dan membayangkan hal-hal yang sama sekali melecehkan intelektualitas.


Di Indonesia, film horor memang sangat diminati dan memiliki pasar tersendiri.Sebagai medium seni, film pada perjalannya telah menjadi sarana hiburan yang dikonsumsi khalayak.Film yang selayaknya mampu menggambarkan realitas masyarakat seharusnya memiliki aspek edukatif, informatif, dan juga hiburan dalam satu kemasan, namun di Indonesia masih banyak menyajikan karya-karya film yang keluar jauh dari realitas sosialnya, dan minus dengan informasi yang mendidik. Salah satu contohnya ialah di bioskop-bioskop kita masih menjamur film horor yang lebih menonjolkan sisi erotis, ketimbang merepresentasikan realitas sosial masyarakatnya.

Sebut saja film-film berjudul; 'Suster Keramas', 'Arwah Goyang Karawang', 'Pacar Hantu Perawan', 'Pocong Mandi Goyang Pinggul', 'Pacar Hantu Perawan', 'Darah Perawan Bulan Madu', 'Rintihan Kuntilanak Perawan', 'Air Terjun Pengantin', dan sederet judul sejenis. Maraknya beredarnya film horor buatan dalam negeri ini juga menggambarkan bagaimana minat pasar terhadap industri perfilman.

Pemanfaatan fisik perempuan ini memang menjadi sasaran favorit dalam berbagai media. Dunia periklanan banyak menggunakan daya tarik perempuan sebagai simbol untuk memberikan daya tarik bagi calon konsumennya.Mungkin hal ini juga dilakukan oleh para pembuat film horor erotis, yakni memanfaatkan segala sesuatu yang ada pada tubuh perempuan, dimana dari ujung rambuthingga ujung kaki merupakan komoditas yang menjanjikan. Pada kasus ini, unsur erotisisme akhirnya jadi lebih menonjol dibandingkan dengan unsur horor itu sendiri.

Konstruksi sosial selalu mengatasnamakan tubuh perempuan sebagai simbol kecantikan. Kemudian industri perfilman mampu membaca konstruksi ini dimana perempuan lalu dijadikan objek untuk dijual melalui industri perfilman dalam kemasan film horor. Sejatinya, dalam industri ini pihak yang diuntungkan bukanlah perempuan itu sendiri, melainkan pemegang modal yang terus meraup laba.


#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured