Energi Positif dari Tebango, Lombok Utara

/
0 Comments
tulisan ini pernah dimuat di www.akumassa.org 26 Januari 2010

Di sebuah tempat, tampak beberapa anak sedang bercanda dan bermain dan berlari-larian. Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang bersahaja menegur mereka:

Pemuda: Hey…Hey.. berhenti- berhenti! Sini, kalian tahu ini tempat apa?

Anak-anak: Tempat Sembahyang.

Pemuda: Sembahyang umat apa?

Anak-anak: Buddha.

Pemuda: Bagus, di tempat sembahyang atau di tempat peribadatan lain, tidak boleh dijadikan tempat bermain, paham?

Anak-anak: Paham.

Pemuda: Kalau Umat Islam sembahnyangnya di mana?

Anak-anak: Masjid.

Pemuda: Pintar-pintar , ingat, peliharalah dan jagalah tempat peribadatan setiap agama, ngerti?

Anak-anak: Yaa…

Pemuda: Kalian main di tempat lain saja yaa!!

Anak-anak: Iyaaa…

Berikut cuplikan dialog dari salah satu adegan dalam film Sunan Kalijaga yang dibintangi Dedy Mizwar. Film yang diproduksi tahun 1984 itu mengandung pesan toleransi antar agama. Pada umumnya, toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia dan masyarakat untuk menjalankan keyakinan-NYA atau mengatur hidup dan menentukan nasibnya masing-masing. Sikap toleransi membangun kesadaran yang mantap bagi masyarakat untuk saling menghargai dan membangun Indonesia.




Toleransi antar umat beragama sangat terasa kental di Lombok Utara. Penanda-penanda dan simbol agama tampak jelas dilihat mata dan didengar telinga. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menjelang adzan selalu bersahut-sahutan di udara lewat corong speaker Masjid dan Musholla. Pura dan Banjar umat Hindu beserta aktifitasnya juga tampak di sepanjang jalan. Semua ini nampak amat harmonis, hampir tanpa ada sejarah hitam pertikaian antar umat beragama di Lombok Utara.

Ketika melewati Vihara dan perkampungan Umat Buddha di Dusun Tebango, Pemenang, Lombok Utara, aku teringat akan dialog dalam film Sunan Kalijaga tersebut. Vihara tersebut dibangun kembali pada tahun 2008 atas bantuan (Pemerintah-red) Cina. Sebelumnya tempat tersebut dinamakan Pemaksan, Cetya dan akhirnya pada tahun 1983 menjadi Vihara. Dusun itu tenang, sederhana dan bersahaja. Disanalah bermukim 148 kepala keluarga dengan jumlah kurang lebih 850 jiwa yang beragama Buddha. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai buruh tani, namun setelah tahun 2000-an banyak dari mereka yang bekerja di sektor pariwisata.




Pak Sukarman selaku Kepala Dusun Tebango mengantarkanku ke seorang Dharmaduta yang bernama Metawadi. Pria kelahiran 1979 ini mempersilakan kami duduk di berugaq rumahnya. Hampir setiap rumah di Lombok memiliki berugaq (seperti saung) yang berfungsi sebagai ruang sosial. Di belakang berugaq tampak sanggar dengan patung Sang Buddha dan lukisan beberapa Bikhu tempat beliau bersembahyang. Sehari-harinya Metawadi bertugas sebagai pengajar Agama Buddha dan Konseling di SMP 1 Pemenang dan kini masih menyelesaikan studi pascasarjananya jurusan manajemen. Dari obrolan-obrolan sederhana, akhirnya beliau menceritakan sejarah masuknya ajaran Buddha di Pemenang.

Menurutnya, pada tahun 1301 M, sempat terjadi musibah besar di Lombok, saat itu masyarakat belum punya agama. Dalam kebingungan karena faktor kemiskinan dan sebagainya, kemudian datanglah seorang dari Majapahit bernama Dhang Hyang Dwijendra yang akhirnya dikenal sebagai Dhang Hyang Semeru. Beliau berkata, jika ingin mendapat ajaran dariku maka kumpulkan masyarakat di sebuah tempat. Oleh masyarakat peristiwa berkumpul tersebut disebut Tebeng (kumpul:sasak) dan Tebango berarti berkumpul untuk mendapatkan pencerahan. Dhang Hyang Semeru mengajarkan kepada masyarakat yang terasa sampai sekarang yaitu bersinergi dengan alam, baik alam halus maupun alam manusia. Setiap hari Jumat ditaruh sesajian di tiap sudut kampung yang bernama Sanggah. Inti ajaran beliau adalah menanamkan kepercayaan kepada Shiwa Guru sebagai manifestasi Tuhan. Menurutnya Dhang Hyang Semeru beraliran Shiwa Buddha yang akhirnya oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan Budhapaksa yang berakulturasi dengan Hindu. Budhapaksa memiliki sebuah kitab bernama Kidung Kahuripan yang tidak semua orang boleh tahu. Bentuk upacaranya saat itu adalah Pujawali di sebuah tempat bernama pemaksan yang berada di atas bangunan vihara sekarang. Bahkan saat itu mereka masih merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Uniknya mereka tidak mau dianggap Hindu, “Kami adalah Budhapaksa,” kata mereka saat itu.


Metawadi Sang Dharmaduta


Dari beberapa literatur yang saya temukan, menurut Babad Lombok yang berpengantar bahasa Jawa Kuno (Kawi), agama pertama orang Lombok adalah Wratsari (suatu bentuk agama asli Sasak pada waktu lampau, seringkali disebut Buda bukan Buddha). Ketika ditanyakan mengenai sejarah Wratsari, Metawadi mengaku kurang paham masalah tersebut. “Tetapi jika digali lebih dalam, tentunya akan kembali ke Budhapaksa,” tuturnya. Sedangkan menurut Babad Lombok yang disalin pada tahun 1972, seperti yang ditulis Radjimo Sastro Wijono dalam tulisannya “Rumah Adat dan Minoritasisasi” dikatakan bahwa agama Wratsari dibawa oleh pendeta Gurundeh dari Buda Klin.

Di Babad Lombok terdapat mukadimah bertutur mengenai Nabi Adam dan Hawa:

Sepeninggal Nabi Adam, para iblis melakukan propaganda besar-besaran untuk menyesatkan umat manusia. Iblis-iblis ini mengatakan kepada umat manusia bahwa mereka sudah bertemu dengan Nabi dan mendapat pesan dari Nabi Adam untuk manusia. Isi pesan tersebut ialah barang siapa yang hendak bertemu dengan Nabi Adam hendaklah ia mendirikan sanggah, sanggar serta sesaji. Babi, anjing, tuak dan brem dihalalkan semua. Ajaran ini kemudian disebut wratsari, dibawa oleh Pendeta Gurundeh dari Buda Klin. Maka banyaklah umat manusia yang terseret ke dalam ajaran iblis.

Artinya, kalau menurut keterangan dari babad, dapat diduga bahwa sebelum datangnya orang-orang Jawa semasa akhir kerajaan Majapahit, masyarakat yang memeluk Agama Buda sudah ada. Agama asli masyarakat Lombok ini dalam perkembangannya sampai sekarang sering juga disebut Agama Buda (dalam penulisan sering ditulis bode, bodo, bude) atau Buda Keling, atau agama nenek moyang, atau Agama Majapahit.


Bergantinya Orde Lama ke Orde Baru berpengaruh besar terhadap struktur masyarakat Lombok, termasuk pada masyarakat Buda. Sejak tahun 1969 program Pembangunan Lima Tahun (PELITA) Negara menghegemoni bahkan mengintervensi kehidupan masyarakat dalam beragama. Negara hanya mengakui lima agama seperti yang kita pelajari di bangku sekolah. Sedangkan agama-agama Nusantara warisan nenek moyang dianggap penyembah pohon, pemuja setan, atheis, PKI dan sebagainya. Masyarakat diwajibkan memeluk agama seperti yang tertulis dalam KTP (Kartu Tanda Kependudukan) agar aktivitasnya bisa dikontrol oleh Negara.

Pada tahun 1970-an masuklah seorang tokoh agama Buddha yang berasal dari Cakra Negara, Mataram bernama Komang Gede Dharma Susela yang mengajarkan inti ajaran Buddha yang sebenarnya. Dalam Agama Buddha ada beberapa hari penting yang diperingati di antaranya : Hari Magha Puja, Hari Waisak, Hari Asadha dan Hari Kathina. Dalam memperingati hari-hari tersebut mereka melaksanakan puja bakti. Sampai saat ini puncak keharmonisan Umat Buddha di Dusun Tebango terjadi setiap bulan sepuluh pada malam bulan purnama penuh. Saat itulah mereka mangadakan Tradisi Kathina. Umat Buddha di mana saja mereka berada, meski hidupnya dalam keadaan ekonomi lemah, sebaiknya berusaha untuk ikut berdana di hari Kathina, dana dapat berbentuk barang atau uang, meskipun nilainya kecil asal disertai dengan keyakinan, berarti benih-benih kebaikan telah ditanam. Mereka kumpul makan bersama dan tidur di mana saja di sebuah dusun diatas bukit yang berpenduduk 67 kepala keluarga. Dusun itu bernama Tebango Bolot.


Di Dusun Tebango ini banyak saya jumpai bawi (babi) yang dipelihara di rumah-rumah, namun menurut Metawadi hanya sekitar sepuluh kepala keluarga dan kalangan tua saja yang masih mengkonsumsi babi, sedangkan banyak kalangan muda yang sudah belajar agama tidak lagi mengkonsumsinya. Metawadi sendiri tidak mengkonsumsi babi dan binatang berkaki empat karena memang itu tidak dianjurkan oleh agama Buddha. Metawadi adalah seorang yang selalu membangun sinergi, tidak hanya dengan manusia tetapi dari alam yang paling rendah sampai alam tertinggi. Obrolan pun berlanjut ke perbincangan yang ‘lebih dalam’ sampai beberapa jam kemudian. Tak lama kemudian adzan maghrib bergema dari corong speaker Masjid terdekat, meminta saya untuk memenuhi panggilanNya. Setelah berpamit untuk bergegas pulang, saya teringat akan kisah pertemuan antara Syekh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging di pulau Jawa yang berdiskusi masalah ’spiritualitas’. Walaupun Ki Ageng Pengging pemeluk Shiwa Buddha dan Syekh Siti Jenar pemeluk Islam, tapi pada ujung-ujungnya, esensi spiritualitas yang mereka dalami adalah sama. Obrolan hangat ini berakhir dengan rencana diadakannya workshop video di halaman Vihara yang disambut dengan hangat oleh Pak Kadus (Kepala Dusun).


Berpose di Mesjid 'Wetutelu' Bayan Beleq


You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured