The Frankenstone: Tentang Tour dan Scene Negeri Jiran

/
0 Comments

PADA sebuah hari setelah malam hingga larut, di sebuah warung Burjo kawasan Selokan Mataram, masuk dikit ke dalem, saya sengaja bertemu dengan The Frankenstone. Trio Punk Rock Yogyakarta yang terdiri dari Gisa (bass,vokal), Putro (gitar,vokal) dan Jeje (drum) ini bercerita seru-seruan tentang pengalaman Tour mereka. Ya, ketiga muda-mudi cadas asli Yogyakarta ini baru saja melakukan tour ke negeri jiran, Singapura dan Malaysia, 2 Maret 2012 lalu. Berjalannya tour ini adalah sesuatu yang tidak dibayangkan oleh mereka sebelumnya.






Kepada saya, mereka bercerita banyak hal, mulai dari perjalanan, pertunjukan, hingga scene musik ‘bawah tanah‘ di Malaysia-Singapura, ditambah bonus keluh kesah selama berada di negeri orang. Setelah merilis double album bertajuk ‘A Kid’s Refuge from the Adults’ (2011), dan sebelumnya telah merilis beberapa album, dan kompilasi, di antaranya, EP Authentic Bluffer!! (2008), Kompilasi DIY in DIY (2009), kompilasi The Sounds Of Jogja (2009). dan LP - Don’t Be Sad, Don’t Be Gloom, The Frankenstone is Ugly (2009), sebagai band rock, The Frankenstone melakukan ‘ibadah’ lainnya  selain mencetak album, yaitu tour ke luar negeri.

The Frankenstone dibentuk November 2007 lalu, Musik rock yang dimainkan trio ini minim akan lirik, meskipun berlirik, teks tersebut cenderung ‘absurd’, namun itulah punk rock, bermain musik dengan ala kadarnya. Tur ini bermula dari ocehan seniman muda, Wok The Rock yang memberikan info tiket murah sebuah maskapai penerbangan. Tanpa berpikir panjang, mereka memutuskan untuk membeli tiket dan mengadakan tur. Ada lima stage yang mereka hajar sepanjang tour, di antaranya, Chapter Six, Singapura, Embrace Hall, Johor Baru, Seventh Heaven, Negeri Sembilan, Rainhouse, Perak, dan Rumah Api, Kuala Lumpur.

Perjalanan mereka dimulai dengan menaiki pesawat tujuan Yogyakarta – Singapura. Dengan tanpa kru satu pun, mereka bertiga membawa masing-masing dua tas besar, yang terdiri dari peralatan pribadi, hardcase untuk gitar, bass, dan snare drum, dan merchandise band. Setibanya di bandara Changi, Singapura, mereka menaiki MRT (Mass Rapid Transit) ke tempat yang dituju. Gisa mengatakan kalau mereka sempat menunggu berjam-jam karena teman yang akan menjemputnya masih sibuk dengan pekerjaannya. “Karena nggak tahu peraturan, kami sempat kena denda 6 Dollar gara-gara terlalu lama berada di stasiun MRT,” kata Gisa lalu tertawa.

*****
Setelah seorang teman datang menjemput, Pasukan The Frankenstone dibawa untuk transit ke sebuah Hostel. Malamnya, Trio Punk Rock ini pun membakar Chapter Six. Menurut Putro, tempat tersebut berbentuk seperti ruko, dimana lantai duanya digunakan untuk ‘gigs’ musik. Malam itu The Frankenstone berhasil membuat para penggemar musik di Singapura puas. Malam itu mereka tidak sendiri, ada Warthreat band HC punk asal Australia yang juga sedang melakukan tour, belum lagi ditambah tiga band lokal yang menurut Putro, penampilannya sangat bagus.

Jika dilihat sekilas, ada beberapa perbedaan antara komunitas punk di Singapura dengan para punkers yang ada di Indonesia. “Mereka nge-punk bukan karena punya permasalahan, namun bisa dibilang malah ‘nyari-nyari’ masalah,” ujar Gisa tertawa. Putro dan Jeje juga menambahkan bawa anak band punk di Singapura itu kaya, dilihat dari equipment, fashion, dan lainnya yang berharga mahal. “Di sana kan memang negara maju, jadi nggak masalah mereka berpenampilan seperti itu, kami jadi sempat merasa kampungan sendiri,” tukas Putro ngakak sendiri. Di Singapura, komunitasnya juga sangat maju, meski minoritas tapi tetap solid, dan intens. “Di sana fashion mereka bekerja, sama aja kayak mereka datang ke gigs,” ucap Putro.







Seperti di Singapura, di Malaysia, The Frankenstone juga menyampatkan untuk berjalan-jalan dan berfoto di ikon-ikon negara tersebut, satu di antaranya adalah Menara Petronas. Perjalanan tour mereka berakhir di Kuala Lumpur. Nama venue-nya adalah Rumah Api, menurut Gisa dibenarkan kedua rekannya, lokasi mereka tampil adalah di sebuah kota tua, sekilas tampak seperti Kotagede. “Tempatnya bagus banget, namun komunitas punk Malaysia menyayangkan karena lokasi ini akan segera dipugar dan dijadikan Highway,” tukasnya.

Menurut ketiga personil, gigs penutup ini adalah yang paling seru dibandingkan penampilan mereka di kota-kota sebelumnya. “Kami menyiapkan 15 lagu, dan main hingga jam satu tengah malam, penonton masih saja minta nambah lagu, tapi Polisi Diraja Malaysia sudah siap-siap menggelar razia,” kata Putro lalu tertawa.

Di Rumah Api, para punkers wanita bahkan ikutan moshing, dan tetap aman. Tak ketinggalan juga ada seseorang yang datang membawa harmonika lengkap mengajak ‘jammin’ di lagu ‘Blitzkreig Bop’ milik The Ramones.

Pagi harinya, The Frankenstone bergegas ke bandara, dan kembali ke Yogyakarta Rabu (7/3) lalu. “Diperjalanan pulang, kami berbarengan dengan banyak TKI yang pulang bekerja di sana, banyak cerita-cerita lucu dari mereka yang kami dengar,” kata Gisa lalu tertawa.

Di Malaysia, album mereka Don’t Be Sad, Don’t Be Gloom, The Frankenstone is Ugly sempat dirilis ulang oleh dua label sekaligus, yaitu Stoneville dan Freak Music.



Simak lagu mereka di sana---> yesnowave

*******
Menurut Putro, banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman tournya ke Singapura-Malaysia. Di sana, menurutnya, semua penonton sangat support dengan band, mereka (penonton) mau bayar untuk sebuah ‘gigs’. Selain itu, lanjut Putro, acara sekecil apapun, band pasti mendapatkan fee dari pihak penyelenggara.

“Di sana kami belajar budaya menghargai, mereka semua membeli CD yang dibawa band, meski bisa membajak, tetapi mereka tetap membeli sebagai penghargaan untuk musisi,” ungkap Putro.

Di sisi lain,Gisa mengaku terkesan dengan cewek-cewek di sana yang bisa leluasa ikutan ‘moshpit’. “Di sana aman, beda sama di sini, aku mau mospit nggak bisa dan nggak berani, di sana meskipun musiknya keras, semua bisa lebih menghargai cewek,” katanya.





Pada sebuah webzine, Gisa bertutur: Ketika sudah mejalani semua ini kami jadi berpikir, kami ini band yang sering mengalami penolakan, kami ga punya hits, kami belum pernah masuk TV, belum pernah main di pensi anak SMA, rekaman kami cuma murahan dan bukan dirilis major label, para personel kami gak ada yang cakep atau tajir, kami cuma band yanng paling beruntung, kami punya musik dan teman-teman yang percaya sama kami, itu sudah cukup membuat kami bahagia. Even though we lost, we win!


You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured