MARAPU: Reggae dan Kearifan Lokal Nusantara

/
0 Comments
MUSIK reggae memang  telah dinikmati di berbagai belahan dunia. Barbagai bangsa kini keranjingan jenis musik yang memiliki karakteristik segar, ceria, dan terutama spiritnya tentang kebebasan. Musik yang awalnya dipulerkan di Jamaika ini juga digandrungi di Yogyakarta. Sejak tahun 2000 lalu, di Yogyakarta, sekelompok anak muda yang mencintai musik ini mendirikan band yang mereka namakan Marapu. 

 


Marapu sendiri asalnya merupakan nama sebuah aliran kepercayaan masyarakat Sumba (Nusa Tenggara Timur). Agama tradisional ini beresensi kepada harmonisasi relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesamanya, dan dengan semesta alam.

Ma, bermakna ‘yang’, dan Rapu, berarti ‘disembah’ atau ‘dihormati’. Yang disembah adalah arwah leluhur. Tetapi di atasnya terdapat kekuatan tertinggi yang tak dibandingkan. Kekuatan tertinggi ini tidak dinamakan (anonim).  Pemeluk Marapu menyanjung dengan, ”Ndapa Nunga Ngara, Ndapa Teki Namo” Artinya: Yang tak disebut nama, yang tak diperbandingkan.”  

Dalam kepercayaan Marapu, arwah nenek moyang sangat dihormati, dipuja, dan dimintai tolong untuk menyampaikan permohonannya kepada Tuhan. Kitab sucinya Lii Ndai. Kitab ini berupa syair yang dihafal dalam ingatan para pemuka adat dan dibacakan pada saat upacara-upacara tertentu diselingi nyanyian adat.




Secara umumnya nama ini berarti ‘tersembunyi’, dan menjadi legenda. Segerombolan pemuja musik reggae ini mengaku dengan menggunakan nama ini, kelak akan menjadi legenda dan dikenal banyak orang. Setelah beberapa kali bongkar pasang personil, kini mereka beranggotakan Yanto (vocal), D’iyan (guitar), Benny Ebenheizer (guitar), Dondho (bass), Neloz (keyboard), Iwan (drum), dan Koebiz ( percussion). Awalnya mereka terbentuk dengan cara yang sederhana, mereka adalah sekumpulan mahasiswa pendatang dari Nusa Tenggara Timur, di antaranya Sumba, Flores, dan Timor. Sehari-harinya mereka punya kebiasaan ngumpul di kos-kosan dan memainkan musik reggae. Kemudian mereka sering tampil di event kampus dan hingga kini dikenal sebagai band reggae yang terkenal di Yogyakarta.

“Musik Reggae memang dekat sekali dengan kultur kami yang berasal dari timur Indonesia,” ujar Yanto sang vokalis.

Tahun 2003, Marapu membuat demo tiga lagu, Mawar Funky, Terulang dan Enough. Ketiga lagu tersebut kerap diputar di radio-radio. tidak hanya di Yogya, tapi juga di beberapa radio di Makasar, Bali, Sumba, dan Salatiga.

Karena respon pendengarnya sangat baik, mereka pun berani merilis album yang di produksi secara swadaya di tahun 2006, album tersebut bertitel “The Colour”. Sebanyak 500 keping kaset, dan 1000 keping cd yang mereka produksi saat itu, langsung habis tak bersisa dibeli para penggemar musik.

2009 lalu mereka pun merilis diberi album penuh bertitel ‘Peace, Love, & Freedom’. Senafas dengan band reggae pada umumnya,  lirik lagu-lagu di album ini banyak bercerita tentang perdamaian, sosial, alam, dan kecintaan yang universal. Di album ini, mereka juga menyuguhkan lagu ‘Eri Rambu’ yang aransemennya bernuansa etnik ala Sumba.

Di antara lagu-lagu di album perdana ini, single berjudul ‘Centil’ merupakan lagu hits mereka. Lagu yang kerap kali dinyanyikan di atas panggung ini memang cukup nge-pop, karena lirik dan musiknya termasuk yang paling easy-listening dan asik untuk ‘sing a-long’ bersama.







Roots, Rock, Reggae Bersama Ras Muhamad
Di atas panggung, penampilan Marapu memang cukup kuat karakter reggae-nya. Dengan para personel berambut gimbal, dan ornamen merah, kuning, hijau, penggemar musik reggae seolah dibius seolah melihat band reggae asli di Jamaika sana. 

Namun bukan berarti dengan mengusung musik reggae, mereka menelan mentah-mentah filosofi rastafarianisme yang dianut kebanyakan musisi reggae Jamaika.

*****
Rastafarianisme adalah sebuah ‘agama’ dan gerakan sosial politik kaum Afrika yang menginginkan kembalinya kaum kulit hitam ke Ethiopia sebagai tanah perjanjian mereka. Kaum rasta menganggap kaisar Ethiopia, Ras Tafari Makonnen yang lebih dikenal dengan gelar ‘Emperor Haile Sellasie I’ adalah titisan Tuhan yang kembali turun di muka bumi.

Haile Sellasie I 'Lion Of Judah' 
Menurut D’iyan sang gitaris, dasar reggae dan rastafarianisme adalah membawa ‘perdamaian’. Banyak kultur Sumba yang sejalan dengan ideologi Rastafarianisme. Kedekatan dengan alam dan nenek moyang merupakan contoh yang bisa diadopsi dari kultur tersebut. 

“Yang nggak kita adopsi adalah media ibadahnya, kalau kaum rasta kan ibadahnya pakai ganja, nah kalau kita di Marapu kan punya agama masing-masing, yang Kristen ya ibadah ke Gereja, dan yang Muslim dengan ibadahnya sendiri,” ujar pria berdarah Sumba-Aceh ini.

Sebagai band reggae yang kuat dengan pesan-pesan sosial dan spiritualnya, mereka mengaku ingin mengubah image penggemar reggae yang identik dengan ganja. “Kalau kami di panggung biasa minum air kelapa, ini kan lebih sehat dan menyegarkan, toh sama-sama berasal dari tumbuh-tumbuhan,” ujar gitaris lulusan Akademi Perikanan ini.

Begitu juga dengan konteks rambut gimbal. Bagi kaum rasta, dalam kitab mereka, berambut gimbal panjang, dan berketul-ketul adalah diibaratkan seperti “Lion Of Judah”  satu simbol kepala singa yang melambangkan Haile Sellasie I. Namun menurut D’iyan, unsur spiritual dari berambut gimbal adalah melatih kesabaran dari segala hal. “Punya rambut gimbal, semakin membuat kita peduli dengan diri kita, saya dua hari sekali pasti keramas, merawat kesehatan rambut, dan jadi sering mandi,” aku gitaris yang memangkas rambut gimbalnya setahun yang lalu ini.

****
Album Marapu yang bertitel ‘Terang Dunia’ ini membuat mereka semakin mantap pada reggae sebagai pilihan bermusiknya, karena menurut mereka musik ini unik, apa adanya, merakyat, dan universal. 


Di album ketiga ini Marapu memainkan reggae yang lebih simple, dan easy listening, berbeda dengan album sebelumnya yang lebih idealis. Menurut Yanto, tidak ada lagu bertema cinta di album ‘Terang Dunia’ ini. Di album ini mereka lebih banyak bercerita tentang motivasi, having fun, dan rebel. “Di lagu ‘Terang Dunia’ kami ingin memberi spirit kepada orang-orang yang berani mengatakan kebenaran, meski diteror di tengah brengseknya negeri ini, meski di tengah banyaknya kemunafikan, kita harus tetap berani bersuara,” ujar vokalis lulusan ilmu Pemerintahan ini.

Yanto Marapu
Saya pribadi berharap, sebagai agama kepercayaan leluhur, Marapu tidak boleh punah dari Sumba dan bumi Indonesia. Dan sebaiknya pula Marapu (band) bisa menjadi duta Indonesia dalam memperkenalkan tradisi kearifan lokal seperti Kejawen, Marapu, Sunda Wiwitan, agama Buhun di Jawa Barat, agama Parmalim, agama asli Batak, Kaharingan di Kalimantan, Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara, Tolottang di Sulawesi Selatan, Bahelo (Jambi), Wetu Telu di Lombok, dan lain sebagainya. Karena saya pribadi cukup prihatin dengan agama resmi yang diakui pada KTP orang Indonesia, semuanya agama impor, agama bangsa asing.  (kikiepea)


Tribes Of Marapu, East Indonesia
Ras Tafari Makkonen
”Ndapa Nunga Ngara, Ndapa Teki Namo”








You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured