Ki Catur 'Benyek' Kuncoro Sang Dalang Mletho

/
2 Comments

DI mata dunia,  bangsa kita ini terkenal dengan kekayaan tradisi yang beraneka ragam. Satu di antara warisan budaya tersebut adalah kesenian wayang dari Jawa. Sudah sepatutnya generasi sekarang tetap mempertahankan tradisi tersebut. Namun, bagi sebagian besar generasi muda, wayang adalah kesenian milik kaum tua, bahkan tak jarang yang menganggap bahwa kesenian tradisional ini membosankan dan tidak mencuri minat mereka untuk melestarikannya




Lain halnya jika kesenian tradisional tersebut di kawinkan dengan budaya barat, sebut saja musik yang modern. Adalah Ki Catur 'Benyek' Kuncoro, seniman dalang asal Yogyakarta yang mengawinkan seni tradisional daerah dengan irama musik hip hop yang berasal dari luar negeri. Di setiap pertunjukannya, kelompok yang menamakan dirinya Wayang Hip Hop membuktikan bahwa kesenian tradisional bukan hal yang tidak mungkin untuk ditampilkan dengan versi yang lebih modern.


Pada Mei 2010 lalu, Ki Catur 'Benyek' Kuncoro bersama beberapa seniman membentuk Wayang Hip Hop sebagai media penyampaian misi dan visi yang mereka inginkan. Pastinya, pertunjukan yang mereka lakukan berbeda dengan pertunjukan wayang kebanyakan. Iringan musik gamelan diganti dengan iringan musik hip hop, Hal ini menurutnya agar penyampaian misi dan visi dengan gampang di cerna oleh generasi muda masa kini yang notabene hampir melupakan tradisi-tradisi kebudayaan asli bangsanya.



Di Wayang Hip Hop ini, dalang Ki Catur “Benyek” Kuncoro berkolaborasi dan musisi dari KM7 Hip Hop, dan beberapa musisi lainnya. Menurut Ki Catur, wayang merupakan satu di antara puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol. Di dalam kesenian wayang juga terdapat berbagai cabang seni lainnya, di antaranya seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang.

Menurut perkembangannya, budaya wayang terus berubah dari zaman ke zaman. Penggunaannya juga sebagai media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Ki Catur juga menjelaskan bahwa pada era Orde Baru, cerita Punakawan digunakan oleh pemerintah untuk menanamkan propagandanya yang diselipkan melalui humor-humor yang segar. 
“Karena melihat kesuksesan tersebutlah maka tidak salah kalau wayang hip hop sengaja menyuguhkan cerita-cerita humor segar yang sarat dengan nilai-nilai transformasi kehidupan terkini yang dilakoni oleh para punakawan,” jelas seniman kelahiran Bantul, 3 Maret 1975 ini.




Musik Hip Hop saat ini memang menjadi musik yang cukup digandrungi oleh kaum muda, KM7 Hip Hop dirangkul sebagai satu kesatuan dalam kelompok Wayang Hip Hop juga tidak terlepas dari pemikiran dan filosofi dari musik hip hop itu sendiri. Di negara asalnya, musik Hip Hop adalah musik yang mengunakan lirik-lirik nakal dan tajam dalam mengkritik sosial masyarakat, “Begitu juga dengan pemusik KM7 Hip Hop, mereka menciptakan lagu-lagu Hip Hop yang kritis dan energik dengan menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia,” ujarnya.

Singkatnya, Wayang Hip Hop adalah pertunjukkan seni yang menggabungkan unsur budaya barat dan budaya timur (budaya Jawa) yang hasilnya tentu menyuguhkan suatu keunikan tersendiri. Dalam bercerita menggunakan media wayang, mereka mengangkat tentang isu kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Meskipun musik Hip-hop yang paling utama dalam pertunjukannya, Wayang Hip-hop juga mengalunkan lagu-lagu Jawa, pop top 40 Indonesia, tembang kenangan, dan dangdut. Menurutnya hal ini bertujuannya agar suasana pagelaran jadi lebih hidup dan tidak membosankan.

Para personel Wayang Hip-Hop terdiri dari satu dalang, tiga pemusik, dan tiga penyanyi. dan alat musik yang digunakan adalah keyboard, laptop,  gitar akustik, siter dan sejumlah perkusi seperti terbang, rebana, dan lainnya. Personil Wayang Hip Hop tersebut digawangi oleh Ki Catur ‘Benyek’ Kuncoro (dalang/rapper), Fahrul Fortis (music director), Inung dan Tyno (MC/rapper), Tiara Yanthika (penyanyi, sinden, rapper), dan Khocil Birawa dan Rio Srundeng (tallent). Saat ini mereka sedang sibuk menyelesaikan produksi pertunjuka sekaligus launching album bertajuk ‘Endog Jagad’. (*)


berpose dengan Jogja Hiphop Foundation


Dalang Mletho

SELAIN Wayang Hip Hop yang fenomenal, Ki Catur “Benyek” Kuncoro juga memiliki proyek lain yang tidak kalah progresifnya, proyek tersebut adalah Wayang Republik. Pertunjukkan wayang modern ini awalnya ditujukan untuk mengedukasi masyarakat terhadap sejarah "Nagari Ngayogyakarta" di masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ide Wayang Republik ini muncul setelah isu Keistimewaan Yogyakarta mulai mencuat di permukaan. Wayang Republik ini merupakan wayang kulit dengan karakter tokoh-tokoh pendiri bangsa dan pejuang revolusi kemerdekaan seperti, Ir. Soekarno, Mohamad Hatta, Sri Sultan HB IX, Sri Paduka Pakualam VIII, Jendral Soedirman, Ki Hajar Dewantara, dan lain-lainnya.

Menurut KI Catur, awal kelahiran Wayang Republik cukup ajaib dan tidak terduga. Wayang Republik pertama kali dipentaskan 4 Januari 2011 pada acara Kirab Budaya Pengukuhan Yogya Kota Republik di Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Saat itu acara ini dihadiri ribuan masyarakat Yogyakarta termasuk Sri Sultan HB X, kerabat kraton, dan para pejabat se DIY.

Sebelumnya Wayang yang digunakan adalah wayang suluh yang dipinjam dari Museum Wayang Kekayon. Uniknya sejak wayang tersebut dibuat tahun 1970-an, baru Ki Catur yang menggunakannya pada sebuah pertunjukkan. Karena mendapat respon dan antusias luar biasa, bahkan pihak Kraton juga merespon baik, maka wayang baru dibuatkan setelah dipesan kepada pengrajin wayang kulit handal Yogyakarta Hadi Sukirno.









Cerita yang disajikan pun semakin berkembang, mulai dari peristiwa ‘Jogja Kembali’, pecahnya agresi militer pertama hingga peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Naskah yang dimainkan dibuat sendiri oleh Ki Catur setelah diverifikasi oleh para Profesor, ahli Sejarah, dan pihak  Kraton. Menurut Ki Catur, tujuan Wayang Republik ini murni sebagai misi pendidikan dan pelurusan sejarah, bukan untuk sesuatu yang komersil. Dengan proyek ini, Sang Dalang ingin menyampaikan sejarah yang seutuhnya tanpa diplintir oleh kepentingan apapun, "kalau dengan wayang kan, sebuah cerita bisa di visualkan,” ucap Ki Catur. 

Ki Catur 'Benyek' Kuncoro adalah seorang seniman yang berasal dari keluarga seniman wayang.
Ayahnya (alm) Ki Supardi juga seorang dalang yang mashyur di zamannya. Ibunya  bernama Sriyatini adalah seorang sinden yang masih aktif hingga sekarang. Ki Benyek adalah tipe dalang yang kritis, inovatif dan humoris. Telah banyak pementasan yang sudah dilakukannya. Ia belajar dalang secara akademis ketika masuk di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan) dan setelah itu mengembangkannya sendiri. Selain mendalang, Ki Caturu juga dikenal sebagai musisi. Berbagai jenis aliran musik dapat beliau mainkan, baik musik tradisional, kontemporer bahkan musik modern juga bisa beliau mainkan.  Ki Catur  sering dianggap Dalang Mletho' oleh dalang-dalang lainnya.










You may also like

2 comments:

  1. Mereka main ke Bandung, nggak, Ki? Penasaran sama yang wayang Hip Hop ... =D

    ReplyDelete
  2. yang butuh angka hasil ritual ghoib jitu
    ,2d_3d_4d_5d_6d, telpon eyang woro manggolo di nomor ini
    (_082_391_772_208_) terima kasih

    ReplyDelete

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured