Rumble Royale: Eat The Fashion, Wear The Poison!

/
3 Comments

SETELAH memiliki lima cabang di Bali,  Rumble membuka gerai pertamanya di pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta. Pada pesta peresmian Rumble Royale Store yang terletak di Jl. R.E Martadinata ini, pada Jumat, (24/5/2013) sederet kelompok musik dari Yogyakarta dan Bali membakar semangat yang sama dengan konsep berdirinya Rumble. 

Devildice
Mulai sore harinya, Rebel Of Law, Broken Rose, Dirty Glass, The Sneakers, dan Desperados unjuk gigi. Selanjutnya grup Rockabilly Kiki & The Klan dilanjutkan Disc Jockey oleh SoundbwoyDodix menemani penonton membunuh senja.



Orkes Rockabilly Kiki & The Klan

Dirty Glass
Soundbwoy Dodix
Setelah malam datang, dan lampu-lampu mulai dinyalakan, Hang Out dan My Pet Sally menghentak panggung dengan musik mereka yang berirama cepat. Selanjutnya, satu band yang ditunggu-tunggu penonton sejak sore pun tampil, adalah Suicidal Sinatra yang kembali hadir dengan formasi awal.

Suicidal Sinatra
Selanjutnya giliran Sangkakala yang benar-benar membakar panggung. Band Heavy Metal ini menyalakan kembang api lewat gitar dan bass mereka. Sontak riuhan penonton yang berdatangan dari berbagai kota ini makin tidak terbendung.


Sangkakala


Devildice, band milik Jerinx melanjutkan riuhan penonton tersebut, bahkan membuatnya semakin histeris. Wajar saja, drummer Superman Is Dead yang juga salah satu pemilik Rumble Royale ini memiliki ribuan fans fanatik.




Acara yang berakhir sebelum tengah malam itu, berturut-turut ditutup dengan penampilan dua grup hip hop. Gold Voice dari Bali tidak lantas membuat panggung menjadi sepi, apalagi setelahnya Jogja Hip Hop Foundation tampil maksimal membawakan tembang-tembang mereka yang sudah dikenal penonton, dan tembang Jogja Istimewa pun menjadi penutup pesta malam tersebut.


Jogja Hip Hop Foundation
Seusai pesta, Jerinx mengatakan bahwa malam itu adalah awal sinerginya Yogyakarta dan Bali melawan mesin yang diciptakan oleh pusat dan penguasa. Rumble Royale memang bukan sembarang gerai yang menjual produk sandang dan lainnya, idealisme di dalamnya bahkan lebih penting sejak Adi Hydrant mendirikannya 2010 lalu.

Menurutnya, Seniman Bali sejak dulu kala melukis wanita bertelanjang dada, dan apakah itu menodai budaya Indonesia? Karenanya Rumble adalah media dalam bentuk pakaian yang dirancang untuk menelanjangi kemunafikan. Inspirasi Rumble adalah hal-hal yang sering ditabukan oleh masyarakat dengan alasan-alasan mainstream seperti, ketakutan yang berlebihan akan keindahan wanita, budaya alternatif dan substansi mood altering. Slogan mereka adalah "eat the fashion, wear the poison"



Menjadi diri sendiri terasa sulit di negara bhinneka yang penuh aturan moral ini. "Disinilah Rumble berdiri, ini bukan tentang pakaian semata, ini tentang energi untuk melawan & menjadi diri sendiri," ungkap Jerinx. (*)

foto: Helena Lea Manhartsberger @Hellenak


You may also like

3 comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured