The Super Slinky Slide: Blues itu 95% Soul, 5% skill

/
0 Comments

MUSISI Blues Yogyakarta, Herry Firmansyah merilis mini album berjudul ‘Blue On G-Strings’ pada Mei 2013 kemarin. Album ini bermaterikan lima track, di antaranya empat karya sendiri yaitu ‘Glassessman Blues’, ‘Rockstar Diary’, ‘Jobless Blues’, ‘Pseudo Rock N Roll’. Di album ini Herry juga merekam lagu milik Robert Johnson ‘Walking Blues’. Herry terkenal sebagai pemain gitar elektrik, resonator gitar, vokal, slide, dengan fingerpicking style yang khas.


Artwork album ini dikerjakan oleh istri tercintanya, Yulia Qomariah. Di album solonya ini ia menggunakan brass body resonator. Ia sangat dipengaruhi, bahkan kerasukan ruh Robert Johnson, Muddy Waters, Lousiana Red, dan Adrian Adioetomo. Untuk tema dalam lirik, musisi yang paling disukainya adalah Kurt Cobain dan Nirvana.

Herry memberi judul Blue On G-Strings karena semua track dalam lagu ini ia mainkan dalam tonika G, disamping itu secara filosofis, ia mengacu pada jenis pakaian dalam wanita yang indah, yang mana meskipun indah tetap saja fungsinya hanyalah pembungkus, sementara bagian terpenting adalah isi di dalamnya. Begitupun musik, bagi Herry, apapun genrenya yang penting isinya.



Album ini secara umum hanyalah usaha seorang Herry Firmansyah menyampaikan apa apa yang pernah ia rasakan. Album tersebut juga menjadi dokumentasi atas karya karya musisi kelahiran Magelang, 3 Oktober 1983 ini yang memang layak dibagikan pada publik. Dengan album Blue On G-Strings ini, Herry hanya ingin mengeluh dan bercerita mengenai apa yang ia lihat, rasakan, dan pikirkan. 

Album yang diproduksi secara swadaya ini bisa didapat dengan cara memesan langsung pada Herry. Selain itu, album ‘Blue On G-Strings’ ini juga bisa juga didapat di event-event musik, di saat ia tampil. Karena dimana saya perform, niscaya di situ saya akan membuka lapak..haha,” ujarnya.


Sebelum tampil sebagai musisi solo, Herry bermain bersama band dengan genre blues psikedelik bernama Sister Morphin. Hebatnya, band tersebut sudah bubar bertepatan setelah merilis album perdana. Pada penampilannya, Herry selalu membuat penonton terpaku melihat permainan gitar dan ekspresi bernyanyinya. Musisi yang satu ini juga selalu membawa pesan-pesan positif bahkan menerangkan jalan menuju Syurga Allah di setiap jeda lagu. Tampaknya selain seorang blues man, Herry juga cocok menjadi penceramah agama yang segar dan menohok, maklum saja banyak dari pemuka agama yang acapkali ucapannya membosankan, dan membuat pendengarnya lebih ngantuk dibandingkan mendengar Robert Johnson plus belum tidur dua minggu.

difoto oleh Aan Fikriyan

Berikut kutipan wawancara dengan Herry Firmansyah ‘The Super Slinky Slide’ yang tidak dimuat di Koran paling mainstream di Yogyakarta :p
Selamat membaca, lalu beli CD Blue On G-Strings' sebelum kehabisan !!!

TR: Gimana sih awal kamu main musik?
HF: Awalnya saat masih SMP, saya memainkan alat musik bass. Saya mulai main gitar saat SMA dan mulai mengenal blues atas jasa mister Gary Moore almarhum. Sebenarnya tidak ada momen spesial yang membuat saya mengambil keputusan untuk terus bermain musik, kecuali rasa senang saya terhadap musik itu sendiri. Saya berpikir bermain musik itu menyenangkan. Berangkat dari hal tersebut saya mulai rajin mengikuti festival band saat SMA, waktu itu saya punya band dengan format trio, saya bernyanyi sambil main gitar dan kami memainkan lagu lagu Nirvana, band yang sampai hari ini saya anggap sebagai band paling hebat yang pernah ada di muka bumi ini.

TR: Apa makna blues bagi seorang Herry?
HF: Blues bagi saya secara pribadi adalah kebebasan untuk menyanyikan perasaan. Kalau saya meminjam istilah istri saya, blues adalah menyanyikan keluhan. Hahaha istri saya itu hebat, dialah yang mengajarkan saya memaknai musik dan lagu lagu secara mendalam, kalau tidak kenal dia mungkin saya akan terjebak menjadi manusia pemuja skill mas …hahaha!!! Disamping itu saya memaknai blues sebagai 95% soul dan 5% skill ..artinya saya mengesampingkan teknik teknik yang masya Allah tidak akan ada habisnya kalau dikejar, saya lebih mementingkan untuk menyampaikan sesuatu berupa keluh kesah atau cacian sekalipun, ketimbang sibuk berkutat dengan teknik teknik dan skill yang masya Allah, sebenarnya kurang begitu penting menurut saya.

TR: Apa saja yang mau kamu sampaikan di album Blue On G- Strings ini?
HF: Secara umum saya hanyalah berusaha menyampaikan apa apa yang pernah saya rasakan, album ini hanyalah kumpulan lagu lagu, dokumentasi atas karya karya saya yang daripada saya simpan sendiri lebih baik saya bagi, siapa tahu ada yang senang mendengarkannya di luar sana. Saya tidak memiliki tujuan tertentu seperti politis, kritik sosial, kesadaran lingkungan dan yang lainnya dalam album ini. Bukan berarti saya tidak peduli dengan hal hal seperti itu mas, mungkin setelah ini saya akan membuat yang seperti itu. Sementara dalam Blue On G-Strings ini, saya hanya ingin mengeluh dan bercerita saja mengenai apa yang saya lihat, saya rasakan dan pikirkan dan seperti itulah akhirnya persepsi yang dihasilkan, sebenarnya sangat subjektif, tapi ya begitulah mas...hahaaha


TR: Boleh dong deskripsikan karya-karyamu yang kebetulan juga menjadi favorit saya seperti Pseudo Rock N Roll, atau Jobless Blues?
HF: Kalau lagu Jobless Blues itu lagu soal diri saya sendiri yang pengangguran mas...hahahaha, nah kalau lagu Pseudo Rock N Roll itu saya berusaha mengkritik persepsi orang sekarang dalam menerjemahkan Rock n Roll. Rock n Roll itu menurut saya terus bergerak dan tahan banting dalam kondisi sesulit apapun, itu secara filosofis, dan itu juga kadang baru menjadi pikiran buat saya, karena untuk menjalaninya sangat berat. Pendek kata Rock n Roll iu bukan hanya fashion semata. Sekali lagi semua itu menurut saya mas...hehe… Sedangkan di lagu Rockstar Diary, saya bercerita soal fenomena ke ”Rockstar”an, seluk beluk di dalamnya saya ceritakan melalui sudut pandang saya sebagai subyek, saya sampaikan dalam lirik yang kasar dan jorok serta terkesan konyol.

TR: Apa sih sensasinya tampil solo, dan enak mana main musik diiringi sama band?
HF: Tampil solo berbeda dengan diiringi, bermain solo itu lebih merdeka, karena kita tidak terikat dengan yang lain seperti kalau dalam band. Saya bisa bebas menaik turunkan tempo dan irama lagu sekehendak hati, saya juga bebas menghentikan lagu di tengah kalau tiba-tiba saya kehilangan mood. Haha itu bagian paling menyenangkan dari tampil solo menurut saya...


TR: Apa pentingnya komunitas blues bagimu sebagai seorang musisi?
HF: Komunitas musik Blues di Jogja berkembang dengan sangat bagus. Terbukti dari hari ke hari semakin banyak bertambah teman yang nongkrong dan jamming di acara acara blues. Itu berarti peminat musik blues semakin banyak setiap harinya. Berkomunitas sangat penting bagi saya, karena komunitas itu ibarat keluarga besar, komunitas bisa mewadahi aspirasi dan kepentingan anggota di dalamnya, komunitas juga memiliki posisi tawar yang kuat dibanding perseorangan dan yang tak kalah penting adalah dalam komunitas terjalin ukhuwah dan silaturahmi yang insya Allah memanjangkan umur dan memperlancar rejeki. Amin.

TR:  Selain main musik, apa aja sih yang jadi kesibukanmu sehari-harinya?
HF: Kegiatan saya selain bermusik adalah menjadi bapak dari dua anak saya yang lucu lucu, juga menjadi suami dari seorang perempuan hebat yang mendampingi saya dalam segala keterbatasan yang saya miliki. Selain itu saya kadang menulis di Blog pribadi saya, mengenai blues dan artikel artikel yang berkaitan dengannya.

difoto oleh Aan Fikriyan

TR: Sebenarnya apa sih cita-citamu waktu kecil?
HF: Cita cita waktu kecil saya banyak mas, hahaha ganti ganti pula... tapi yang paling saya inginkan sebenarnya menjadi pembalap mas, terlebih crosser, ada hal yang sampai sekarang masih terngiang, waktu itu kalau tidak salah saya kelas 4 SD, saya pernah diajak bapak nonton kejuaraan motocross, dan saya sempat melihat langsung dari dekat aksi dan kehebatan Om Joni Pranata legenda motocross Indonesia !!! hahaha sampai sekarang saya masih ingin jadi pembalaps, meskipun saya tahu itu tidak mungkin... hahaha dan yang tersisa dari cita-cita masa kecil saya adalah kegemaran saya kepada motor semacam Ts, RX King dan motor berisik lainnya, khususnya yang berasap alias 2 tak, dan hebatnya hingga saat ini kesenangan saya itu belum terbeli mas...hahaha

TR: Apa rencanamu selanjutnya?
HF: Target saya ke depan adalah terus bermusik secara istiqomah dan berharap musik itu bisa menjadi jalan saya untuk mencari rezeki dan beramal sholeh serta menyampaikan kebenaran meskipun dengan dengung yang paling lemah sekalipun. Saya bukan sok religius tapi saya sudah mengalami berbagai fase yang menurut saya berat dalam hidup, dan hal itu menuntun saya untuk berlaku wajar sebagai manusia dan banyak-banyal berdoa mas... akhir2 ini saya benar-benar menginsyafi bahwa saya hanyalah tanah yang dipinjami nyawa, dimana setiap saat apa yang dipinjamkanNya kepada saya bisa diambil...
 
foto ini dibajak dari Facebook

ngobrol asik dengan ‘The Super Slinky Slide’ dan simak tausiyahnya yang menggoda di twitter: @herrywhitermood atau Facebook: Herry Firmansyah

Youtube: 









You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured