Gerap Gurita: Crossover Folk, Punk, Hingga Tradisional Melayu

/
0 Comments
PADA sebuah gigs, saya terkagum-kagum melihat barisan anak muda memainkan musik yang begitu membuat asyik masyuk. Sebagai penggila The Pogues, sontak saya terperanjak dari meja bar, dan ikut bergumul dengan massa yang sudah panas di bibir panggung. Massa penonton itu beragam; punk, skinhead, hingga dedek-dedek gemes usia SMA, canggihnya mereka yang menyemut ini hampir semua ‘sing a long’ menyanyikan lagu-lagunya. Nama band itu adalah Gerap Gurita, sekelompok pemuda asal Godean (kawasan yang terletak di bagian barat Yogyakarta). Mereka sudah malang-melintang dipermusikan sejak 2006 silam.



Pada sebuah kesempatan, orkes saya Kiki & The Klan bisa tampil sepanggung dengan mereka, di acara ‘Rakyat Djelata’ yang saat itu juga tampil dua grup musik yang saya hormati: Marjinal dan Teknoshit. Saat itulah kami mulai berkenalan, berbincang, bercengkrama, dan mengangkat gelas bersama. Di setiap gigs mereka, saya selalu datang dan ikut bernyanyi bersama penonton lainnya di bibir panggung, maupun ikut mencekik mikrofon mereka di atas pentas. Puncaknya adalah sangat tersanjung bagi saya ketika gerombolan musik Gerap Gurita mau tampil memeriahkan acara #1st Anniversary Kiki & The Klan 2012 lalu. Bukan hanya itu, saya pun ‘tuman’, ketika ada tawaran bermain di Cong Idol, Bentara Budaya Yogyakarta, beberapa personel mereka yang juga menggilai Keroncong ikutan menjadi musisi pengiring di proyek tersebut. 
Gerap Gurita di Anniversary Kiki & The Klan
Pada sebuah kesempatan, Gerap Gurita saya undang ke Radio Soekamti untuk ‘Live On Air’, namun sayang seribu sayang, tiba-tiba perangkat radio sedang tidak bersahabat, karena tidak memungkinkan untuk ‘On Air’, namun ‘Rock & Roll’ tidak akan pernah bisa dihentikan. Dengan sigapnya para personel dan kru mengoprek-ngoprek perangkat siar, dan Gerap Gurita pun tampil OFF AIR. Mereka mengerjakan sendiri rekaman audio dan juga membuat videonya. Sebagai band, mereka bisa merespon semua keadaan dan menjadikannya sesuatu yang ajaib. Di ruangan sempit pun mereka bisa berbuat sesuatu yang maksimal.

Hasilnya, saya sangat terkejut campur kagum. Terutama ketika kita bisa sama-sama melihat panci perabotan dapur dan sansak tinju jadi latar!! buat saya visual ini sangat amat punk rock sekali !! Saya memandang panci rombeng pada latar mereka bermain musik merupakan lambang dapur kelas pekerja, dan sansak tinju adalah penanda sebuah perlawanan/pertarungan. 


Ah, betapa Punk Rock kembali ke ‘khittah’nya sebagai milik kelas pekerja. Perlu diketahui, di samping bermusik, para personel Gerap Gurita bekerja sebagai buruh sablon, tukang jahit, bekerja di kontraktor, guru, teknisi komputer, kerja kantoran, hingga penjual petasan musiman.
******
Setelah sekian lama berjungkir balik di kancah musik lokal, kini mereka menembus bursa musik Internasional. Sebuah label Jepang berbendera RUD Runner Records menggandeng mereka untuk membuat full album berisi dua belas lagu. Tepatnya pada tanggal 3 April 2013 lalu, album yang kemudian diberi judul ‘In The Name of’ ini dirilis. Rilisan ini berawal dari salah seorang sahabat Gerap Gurita bernama Nakae yang berasal dari Jepang setelah membawa lagu-lagu yang ada di album EP berjudul ‘Atas Nama’. Ternyata album berisi enam buah lagu yang berlabel Godean Rocker Records ini menarik minat salah satu label di Negeri Sakura itu.




Album ‘Atas Nama’ sebelumnya pernah dirilis tahun 2012, album ini berisi enam lagu; Tentang Kami, Lagu Sabtu, Gadis Gurita, Pemudi Seni, Nenek Moyangku (perompak), dan We`re Coming Back (Cock Sparrer cover). Awalnya, label Jepang tersebut sempat kesulitan memberi judul album baru ini, sebab judul atas nama bila diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang akan terasa janggal, akhirnya dipilihlah bahasa Inggris saja agar mudah dipahami, akhirnya ‘In The Name of’ menjadi terjemahan yang pas dari judul Atas Nama. Gerap Gurita pernah merilis album penuh bebas unduh di dunia maya, tahun 2011 berjudul ‘Pilihan’ (Godean Rocker Rec).

****
cerita dimulai….

DI BAGIAN barat kota Yogyakarta, tepatnya di Moyudan sekitar awal 2006 lalu, sekelompok muda-mudi memainkan musik crossover, mereka pun sepakat untuk membentuk band di bawah nama Gerap Gurita. Genre yang mereka mainkan berbasis pada punk rock, namun karena awalnya kebetulan ingin membawakan musik seperti Flogging Molly dan sejenisnya, musik mereka pun berkembang. Ada mengatakan musik mereka seperti musik tradisional Sumatera, Melayu, Celtic, Irish punk, hingga Polka, dan Paddybeat. Silakan anda komentar sendiri setelah melihat penampilan ataupun mendengarkan hasil rekaman mereka.

Sekelompok anak muda ini lebih suka dipanggil dengan sebutan Jogjakarta Rock & Folk Band.
Gerap Gurita adalah A-inx (akordion, vokal), Andreas (drum), Anom (vokal, gitar), Graha (gitar, vokal), Dandun (bass), Keke (Saxophone), Dian (Fiddle), dan Indra (Tin whistle). Setelah band terbentuk, mereka mencoba merekam dua lagu, ‘Bersama Lagi’, dan ‘Menang Tanpa Tikaman’, rekaman tersebut pun mereka bagikan-bagikan secara gratis, dan mencoba ikut meramaikan berbagai pementasan gig lokal di Yogyakarta.

“Yah seperti band-band baru lainnya, karena keterbatasan lagu akhirnya mencoba untuk meng-cover lagu band bule, The Mahones, dan Flogging Molly yang sekiranya bisa ditebengi terkenal tanpa membayar royalti,” ucap Anom, vokalis yang juga bermain mandolin.
Karena merasa kurang mampu membawakan lagu band-band barat tersebut, mereka pun kembali memproduksi rekaman dengan lagu-lagu ciptaan sendiri, dan memainkannya penuh ketika ‘live’. Sekumpulan lagu tersebut kemudian dirilis dalam bentuk album EP bertitel ‘Bersama Kawan di Jogjakarta’ (2007). EP yang berisi enam lagu tersebut juga dibagikan gratis. Sejak berdirinya, Gerap Gurita beberapa kali mengalami bongkar-pasang personel, hingga akhirnya merasa cukup solid dengan formasi terakhir ini.

Tentang nama Gerap Gurita, menurut Anom, sebenarnya berawal hanya sebatas pertanda saja, nama tersebut memang dibuat berbeda dengan gelap-gulita yang meleset menjadi Gerap Gurita. “Ya bayangin aja ketika nggak ada huruf ‘R’ pasti seru. Ini tentang positif dengan negatif, semua bakal bernilai ketika itu saling melengkapi atau beriringan,” ucap Anom menjelaskan nama tersebut.

Setiap kepala yang ada di band ini memiliki selera berbeda musik yang didengarkan, namun secara keseluruhan, masing-masing personel menyukai band dan penyanyi solo seperti, Cock Sparrer, Toy Dolls, The Business, Rancid, The Pogues, The Dubliners, Johnny Cash, Stray Cats, Flogging Molly, dan sebagainya.
Anom Gerap Gurita

Mereka mengaku bahwa musik yang dimainkan saat ini bukan sekedar karena pilihan, namun lebih ke proses. Sampai saat ini, Gerap Gurita masih terus melakukan eksplorasi akan alat musik yang mereka mainkan. Mereka juga terus belajar meng-aransemen musik dengan alat musiknya yang cukup banyak.  Dengan delapan alat musik, dan banyak kepala yang berisi beda-beda, tentunya akan menghasilkan sesuatu yang beragam warnanya.

Lirik lagu yang mereka suarakan bertema tentang banyak hal yang dirangkum dari keseharian, mulai dari kebersamaan, semangat, permusuhan, pilihan, pasangan, dan sebagainya. Satu lagu mereka yang cukup populer adalah ‘JOi!gjakarta’, lagu yang asik dibuat ‘sing-a-long’ ini berkisang tentang gempa di Yogyakarta Mei 2006 silam. Bagian liriknya yang paling mutakhir adalah: “Mahasiswa, Preman, hingga Punk Rock pun ada”


Lagu lainnya berjudul ‘Asa`99’, adalah anthem kebersamaan sewaktu mereka belajar nge-‘punk’. Dari waktu ke waktu, teman yang biasa bersama akhirnya harus berpisah, karena urusan pribadi dengan kehidupan masing-masing. “Ya semacam lagu kangen-kangenan tentang situasi tahun 1999,” ujar vokalis yang menggemari Koes Plus ini.

Pernah Gerap Gurita diundang untuk tampil di Kendal, Jawa Tengah, hal tersebut yang membuat mereka terkesan. Sebagai band berasal dari scene, dan tiba-tiba harus memenuhi undangan tampil di pensi luar kota tanpa ada seorangpun yang kenal.
“Sambutan yang hangat, lalu ketika on stage kami pun dibuat kaget dengan gerombolan pemuda-pemudi berseragam sekolah setempat yang mendekati bibir panggung, mereka hafal menyanyikan lagu-lagu kami dengan hikmat,” kenang Anom.




Skena musik di Yogyakarta semakin berkembang setiap tahunnya. Pensi-pensi sudah mulai menerima band dari scene, dan tentunya dilengkapi dari banyaknya band yang mulai terbuka. Saat ini kualitas audio band-band di skena musik sudah diatas standar, dan musik yang dimainkan semakin variatif.  Bagi band-band kolektif yang masih berpegang pada etos DIY (Do It Yourself) yang ada, bagi Gerap Gurita tidak bisa dipungkiri, pasti akan ada gesekan-gesekan tentang ideologi, “Tapi itulah proses, semua bakal paham ketika sudah menjalani,” ungkap Anom. (*)



Discography : 
- EP:  Bersama Kawan di Jogjakarta (Godean Rocker Rec.2007).
- Kompilasi Brajamusti:  Lagu ‘JOi!gjakarta masuk kompilasi bersama band-band Yogyakarta
- Kompilasi Muda dan Bergairah (Kampret Rec.). Dua lagu, kompilasi rilisan Jakarta; ‘Dari Diri’, dan ‘Kesombongan’.
- Full album ‘Pilihan’ (Godean Rocker Rec. 2011). 13 lagu; Kembali, What i`m doing here, Berlalu, Berlalu (ultah), Generasi Yang Hilang, Dari Diri, Untuk Kawan, Kesombongan, Sebab-Akibat, Intro (self control), Ring Of Fire, Kepercayaan, Lagu Pernikahan, JOi!gjakarta (re-arrangement).
- EP: ‘Atas Nama’ (Godean Rocker Rec. 2012). Berisi enam lagu; Lagu Sabtu, Gadis Gurita, Pemudi Seni, We`re Coming Back, Tentang Kami, Nenek Moyangku (perompak).
- Full Album 'In The Name of' (RUD Runners Rec. Label Jepang. 2013) berisi 10 lagu dengan hits berjudul Dewi Bayu.

FB : gerap gurita
Twitter : @gerapgurita




You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured