John Lennon Hanyalah Seorang Pemulung

/
0 Comments
PAKAR semiotika Roland Barthes berpendapat bahwa sebuah teks adalah suatu jaringan kombinasi makna yang otonom, yang selalu bisa ditafsirkan tanpa mengkaitkannya pada pengarangnya yang bukan lagi subyek atau produser. Yang terjadi kemudian justru kebalikannya, dimana gambaran tentang si penciptanya itu justru dibentuk oleh teks. Figur si pencipta/ pengarang/ seniman itu pada akhirnya menjadi tak terlalu penting.

Berkaitan dengan hal itu, konsep tentang "orisinalitas" pun berubah, dimana pada masa sebelumnya (modern,red) sangat berfokus pada pencarian orisinalitas. Kini, sistem referensi yang tanpa batas menjadikan penciptaan menjadi makin sulit untuk benar-benar "orisinil".

Proses penciptaan kini lebih cenderung berarti "perakitan baru" elemen-elemen atau barang-barang yang sudah siap-pakai. Dekonstruksi dalam arti dekontekstualisasi ialah melepaskan elemen-elemen tertentu dari konteksnya semula, kemudian merakitnya kembali dalam konteks baru yang tak terduga. Sekarang, mari kita baca sosok John Lennon sebagai 'teks'.


John Lennon adalah seorang pemulung! Ya, karena kalau soal bergaya, berkarya, dan berekspresi, Ia mengambil gaya dari banyak orang, dan kemudian diadaptasinya menjadi seorang “John” yang kita kenal. Di awal karirnya bersama The Beatles, ‘Lennon was a Rockabilly Guy!’ style nya sangat dipengaruhi oleh sosok Gene Vincent, terkadang doi juga suka memakai kacamata khas ala Buddy Holly!
Eddie Cochran dan Gene Vincent
Lennon & McCartney
Buddy Holly


Di masa remaja, John adalah badut sekolah. Jam pelajaran dia habiskan untuk menggambar gurunya yang lagi menerangkan di depan. Dia juga suka memperlihatkan penisnya kepada murid wanita. Suatu hal yang paling diingat kawan-kawan sekelasnya di waktu sekolah adalah kesenangan John Lennon ikut-ikutan gaya Elvis Presley dengan menjingkrak-jingkrakkan kakinya kaku seperti tarian Presley.

Dengan menggunakan pensil tebal untuk make up, John bercanda membuat cambang Presley di dua belah pipinya dan berlagu dengan suara bariton menirukan Elvis Presley, masa-masa menjadi 'Elvis Wannabe' adalah masa ia melihat dunia sebagai sebuah becandaan yang menyenangkan. Tak heran John Lennon pernah bersabda jikalau; “Before Elvis, there was nothing.” (sebelum Elvis tidak ada apa-apa)

Lennon, hippie yang berkedok rockabilly.
Pada divisi lirik, di pertengahan karir bersama The Beatles, John Lennon sangat dirasuki Bob Dylan. Sangat mudah untuk melihat mengapa Lennon akan sangat tergila-gila dengan penyanyi folk tersebut. Dylan berasal dari kaum sosialis di New York yang menuntut ketingkatan intelektualitas dari artis-artis mereka. Orang-orang yang mendengarkan musiknya pun cukup duduk manis sambil mikir dan merenung segenap makna di balik liriknya.

Output seni setelah mendengar Dylan bagi John adalah ditantang dan terinspirasi oleh keseriusan penyanyi asal New York itu. Karenanya, Lennon mulai menulis lagu yang lebih introspektif dan menggunakan akustik, contohnya pada lagu "I’m A Loser” (1964) dan yang mutakhir adalah ‘Norwegian Wood’ dan lagu lain di album Rubber Soul yang sangat ‘Dylan’. Jangan heran mengapa suara Lennon seperti habis dirajam. Pada Agustus 1964, di New York, Dylan memperkenalkan The Beatles pada ganja.
Dylan dan Lennon

Di era Lennon berjaya, ada satu fenomena budaya yang perlu dicermati, yakni Gerakan Jaman Baru (New Age Movement), sebuah proses adopsi dan sinkretisasi budaya Timur ke dalam pemikiran Barat. Fenomena ini meliputi spiritisme, yoga, kontemplasi spiritual, dll.

Bersama The Beatles, John Lennon berpergian ke India untuk mencari pencerahan spiritual, di sana George (Gitaris Beatles) juga belajar sitar dengan Pandit Ravi Shankar. Dalam pencariannya akan kebebasan personal, ia bertemu dengan Maharishi Mahesh Yogi, yang kemudian membuatnya mendalami meditasi. Pada musim panas tahun 1969, bersama George Harrison, ia bertemu dengan Swami Prabhupada, pendiri Hare Krishna Movement di Tittenhurst Park, Inggris. 
Dari sisi budaya. Karakteristik postmodernisme yang cenderung personal, sinkretis, pragmatis dan kontra rasional telah memberi ruang bagi pemikiran Timur yang memang cenderung bisa berkawan dengan karakteristik tersebut. 



Di sisi musik, melompat ke tahun 1975, beberapa tahun setelah bubarnya The Beatles, Lennon menelurkan album solonya berjudul ‘Rock N Roll’. Di album itu. Lennon mengover lagu-lagu yang populer di era akhir 1950an  dan awal 1960an. Di antaranya  "Be-Bop-A-Lula" yang pernah direkam oleh Gene Vincent, ‘Stand by Me’ lagu lawas milik Ben E. King. "You Can't Catch Me" nya Chuck Berry, "Slippin' and Slidin" yang dipopulerkan oleh Buddy Holly dan Little Richard, "Bony Moronie" nya Larry Williams, "To Know Her Is to Love Her" milik The Teddy Bears, dan "Since My Baby Left Me" ciptaan Arthur Crudup, yang ditenarkan oleh Elvis Presley. Pada sampul album, Lennon  kembali bergaya layaknya bintang Rock era 50-an.



Di majalah Rolling Stone edisi Januari 1971, Lennon bersabda: "I've always liked simple rock, I was influenced by acid and got psychedelic, like the whole generation, but really, I like rock and roll and I express myself best in rock,

***
Hal lain yang sangat ikonik adalah kacamata berbingkai bulat yang dikenakan Lennon medio 1967-1969. Kacamata jenis ini bernama Windsor. Secara historis kacamata ini juga terkait oleh Mahatma Gandhi, Ernest Hemingway, dan Teddy Roosevelt. 

Belajar dari sosok Lennon, penciptaan kini lebih merupakan proses pembuatan kolase. Unsur-unsur tertentu dihadirkan kembali dalam pola representasi yang baru, dan dengan begitu dilepaskan dari pola representasi aslinya. Maka lebih jelasnya lagi, yang "baru" itu akhirnya adalah "pemaknaannya". (*)
 (*)
Tulisan ini ditulis berdasarkan ingatan, disunting, dikutip, dan disadur dari berbagai sumber.





You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured