Merah Bercerita: Protes Lewat Lelagu

/
0 Comments
Nama Merah Bercerita memang sedang menjadi perbincangan di banyak skena, baik seni musik, seni pertunjukan, hingga dunia aktivisme. Band ini dimotori oleh Fajar Merah yang merupakan putra Wiji Thukul, seorang penyair dan aktivis 98 yang hingga kini masih ‘hilang’.



Sedikit menoleh ke belakang, Merah Bercerita dibentuk oleh sekawanan siswa SMK 8 Surakarta yang ingin berpartisipasi di event bulanan yang diadakan sekolah mereka. Sebelumnya band ini bernama Milagros, karena merasa aneh dengan nama tersebut, mereka memutuskan untuk merubah nama menjadi Merah Bercerita. Filosofinya adalah Fajar Merah selaku vokalis dan mejadi pencerita lewat lirik-liriknya. 

Merah Bercerita digawangi oleh Gandhiasta Andarajati (Guitar) Lintang Bumi (Drum), dan Yanuar Arifin (Bass). istilah 'Sound of Freedom' mereka sebut sebagai jenis musik yang diusung. Alasannya karena Merah Bercerita memang banyak terpengaruh oleh macam-macam aliran, “gak fair kalau kita sebut band ini alirannya A/B/C/dll.. Cuma semua kembali pada pendengar, bahkan kalau kita dibilang aliran sesat sah2 saja hahahaha,” kata pria kelahiran Solo, 23 Desember 1993 ini santai. 

Musik bagi Fajar Merah adalah sesuatu yang sangat berpengaruh besar dalam kesehariannya. Baginya dengan musik, apa yang tak bisa disampaikan hanya dengan kata, jadi lebih bisa terwakili. "Menyampaikan pesan dan kritik dengan media musik sangatlah tepat,” tutur Fajar.
foto: Tomi Wibisono
Lewat Merah Bercerita, Fajar ingin menyampaikan bahwa saat ini keadilan sosial belum merata, karena sampai saat ini masih banyak kasus-kasus yang belum selesai, atau bahkan masih terjadi, contohnya Pelanggaran HAM, Perusakan Lingkungan, dan lainnya. Hingga kini Merah Bercerita telah memiliki 11 lagu, di antaranya ‘Bunga dan Tembok’ yang diadopsi dari puisi Wiji Thukul. Lagu ini berisi tentang perumpamaan bahwa rakyat ini sebagai bunga yang terus dicabuti, dan digusuri oleh tembok bangunan, yaitu Tirani yang serakah dan tak mau memberi ruang kebebasan untuk rakyat. 
poster: Nobodycorp. Internationale Unlimited

Tapi disini bunga-bunga itu telah menabur biji-biji di tubuh tembok yang mereka yakini bisa merobohkan kekuasaan tirani tersebut. “Kenapa kami membawakan lagu ini? Ya supaya pendengar tahu, ini lho puisi Wiji Thukul. Dan kalian tahu gak kalau Wiji Thukul itu dihilangkan negara karena puisinya? Kalian tahu gak kalau sampai saat ini beliau tidak jelas keberadaannya,” tegas Fajar. 

Lagu lainnya adalah “Kebenaran Akan Terus Hidup” yang dipersembahkan untuk pahlawan-pahlawan rakyat yang telah dihilangkan bahkan dimatikan. Fajar mengatakan bahwa memang benar mereka sudah mati dan tak jelas keberadaannya, tapi sampai sekarang apa yang telah mereka suarakan semakin tak bisa diredam. “Karena mereka terus ada dan berlipat ganda di jiwa-jiwa yang mempercayai bahwa "kebenaran pasti menang,” ucapnya. 

Lagu ‘Negeriku Semakin Horor’ bercerita tentang matinya Bhineka Tunggal Ika, dimana beda paham harus menikam, dimana semua orang berlomba-lomba menjadi penentu surga. Dalam waktu dekat Merah Bercerita akan merilis sendiri album mereka. (*) 
foto: Tomi Wibisono

Simak lagu mereka di sini > https://soundcloud.com/merahbercerita


tulisan ini sedikit petikan dari ngobrol ngobrol bareng Fajar Merah
dan Digie Sigit (Teknoshit) di Radio Soekamti.
saat itu kami membahas soal musik dan gerakan perlawanan
dengan tagar #LaguProtes





You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured