Demitologi Pantai Parangtritis

/
0 Comments

SELAMA ini Parangtritis dikenal sebagai pantai anti surfing. Satu di antara faktornya adalah beredarnya mitos di Pantai Selatan Pulau Jawa tersebut. Masalahnya adalah bukan benar dan salah, melainkan mitos itu riil ada di masyarakat, (baca: mitos=realitas). Keberadaan keraton Yogyakarta memang banyak diselimuti oleh mitos. Yang popular adalah bahwa raja-raja Mataram sejak zaman Senopati (pendiri kerajaan Mataram) mempunyai hubungan khusus dengan penguasa laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul yang juga menjadi permaisuri khusus Senopati. Sang Ratu berjanji akan selalu melindungi Senopati dan keturunannya. 
balibelly.com
Sebuah negara yang dibentuk dari kekuasaan, memerlukan apa yang disebut sebagai ideologi. Berdirinya kerajaan Mataram Islam merupakan kelanjutan dari proses koalisi keraton-keraton Jawa ke dalam Islam. Untuk membenarkan pendirian kerajaan Mataram dibuatlah mitos dan ramalan-ramalan mistis. Seorang antropolog dari University of Illinois, Brian S. Bauer menjelaskan bahwa ideologi yang termanifestasi dalam ritual agama dan mitos, yang telah sejak lama mengakar dalam masyarakat, kerap menyarankan sebuah pemahaman tentang hirarki dari sebuah tatanan sosial. Namun, yang jadi soal kemudian, bagaimana ideologi itu dapat bekerja dan menyelinap dalam kehidupan masyarakat secara efektif dan tanpa sadar dapat merasuki 'cultural behavior' masyarakat itu secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. 

Uniknya, banyak kejadian misterius yang semakin menguatkan mitos Kanjeng Ratu Kidul. Masyarakat percaya Sang Penguasa Laut Selatan tersebut suka “melenyapkan” orang yang tidak mengindahkan kaidah alam. Konon bagi yang ingin melamar pekerjaan di Kerajaan Laut Selatan, silahkan datang ke Pantai Parangtritis dengan memakai baju berwarna hijau. Masyarakat beranggapan bahwa orang yang ke pantai Parangtritis dengan memakai baju hijau akan dijadikan budak untuk sang Nyai.

Mitos lainnya adalah Basuki Abdullah, seorang pelukis Nyi Roro Kidul. Lukisannya kini di tempatkan di sebuah kamar hotel Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Hasil karyanya yang cukup indah itu akhirnya disakralkan oleh masyarakat. Suatu hari pelukis naturalis ini mengunjungi pantai Parangtritis dengan memakai baju hijau. Setelah beberapa hari, Abdullah ditemukan terbunuh dirumahnya secara tragis.

Sebenarnya setelah abad ke-6 sm, muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang alam semesta ini yang jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan ini adalah demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi. Maka timbullah peristiwa ajaib, yang nantinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia. Dengan munculnya ahli pikir inilah maka kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.



 Nyai Loro Kidul, Lukisan Karya Basuki Abdullah,
Oil on canvas, 159cm X 120cm, koleksi Bung Karno
Berbaju hijau, berselancar di Parangtritis
Tanpa berpanjang-panjang lagi tentang apa itu, filsafat, mitos, demitologi, politik, dan kekuasaan, Pada Minggu pagi, (26/10) lalu di Pantai Parangtritis, ada kegiatan yang mengedukasi masyarakat dan balawista lokal setempat tentang bagaimana bermain, dan menikmati keindahan pantai dan laut dengan aman. Salah satu programnya adalah program belajar surfing, Kontes Surfing U16 dan U12, Expression Session 'Best Air & Best Trick' Surf kontes, Pelatihan dan Penyerahan Paddle Board kepada Balawista, dan Konser musik oleh Shaggydog.



balibelly.com
Olahraga surfing memang masih kurang terkenal di Yogyakarta, ada beberapa faktornya, menurut Eko Wachid dari Hurley Indonesia adalah kurangnya media yang mengangkat tentang dunia surfing lokal di daerah tersebut. “Jadi, bagaimana masyarakat bisa tahu jika promosi yang dilakukan oleh pemerintah hanya masih terbatas wisata dalam kota, sejarah, sedangkan alam pantainya kurang mendapat dukungan,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya adalah kurangnya edukasi tentang bagaimana bermain dengan aman di pantai, apalagi di Yogyakarta kental dengan mitos tentang Pantai Selatan. Sebenarnya hal ini sangat wajar karena budaya dan tradisi yang tetap dijaga oleh masyarakat. Hanya saja, menurut Eko, kita juga kurang mendapat edukasi tentang cara aman dan nyaman bermain di pantai. 
“Misalnya kalau bermain di pantai jangan memakai celana panjang, baju tebal karena ini sangat berbahaya. Kenapa berbahaya? Karena pakaian tersebut tidak didesign untuk bermain di air. Jadi ketika terkena air, apalagi arus di pantai sangat kuat, kita akan mudah terbawa arus,” jelasnya.

                                                                      ***********
Pariyanta alias Pesek (27) bersama belasan anak pantai Parangtritis lainnya; Danang, Viki, Bima, Fajar, Kuntiling, serta Dadang juga kerap menenteng papan surfing siap menaklukkan ombak. Bagi mereka, ombak besar 4-5 meter di pantai iti bukanlah hal yang berbahaya, melainkan sebuah rejeki karena hasrat menaiki papan surfing sudah terpendam lama. Sejak 2005 lalu, Pesek mengawali olahraga air ini di pantai Parangtritis. Di sela tugas utamanya sebagai salah satu Tim SAR, ia pelan-pelan mulai mengenalkan olahraga ini pada pemuda setempat. 

Hingga saat ini Pesek sudah berhasil menularkan hobinya ini ke 40 pemuda lainnya. Mereka tergabung dalam wadah komunitas penakluk ombak, Dolpin Parangtritis Surf Comunity (DPSC). Rata-rata papan surfing yang dibeli anggota DPSC adalah seken, mengingat harganya yang mahal. "Saya dulu pertama kali beli seken dari Pacitan, cuman Rp 800 ribu tanpa tali pengaman dan fin atau sirip. Kalu dilengkapi jadi habis Rp 1,3 Juta an," ujar Danang.

Anggota DPSC kebanyakan membeli papan selancar dari Bali, Pangandaran dan Pacitan, harganya bervariasi dari yang seken Rp 1,5 Jutaan hingga papan baru seharga Rp 4 Juta. Terkait bahaya ombak pantai ini, Pesek menyarankan harus berhati-hati. "Saya awal berselancar juga agak takut meskipun sudah paham karakternya. Untuk bisa berselancar di sini, harus memahami benar karakter pantai, dimana palungnya, karangnya dan cara menghindari gulungan ombak. Justru yang ombaknya terlihat tenang itu ada palungnya," tuturnya.



foto: Bramasto Adhy
Hal yang selalu ditekankan oleh Pesek pada pemula dan kawan-kawan lainnya ketika ingin menjadi surfer profesional adalah jangan pernah menganggap diri menaklukkan ombak. "Kita berselancar di atas ombak bukan untuk menaklukkannya, namun untuk berselaras dengan alam," pungkasnya.

Menurut Eko dari Hurley Indonesia, ada tips yang penting bagaimana melakukan surfing di Parangtritis, di antaranya selalu perhatikan perubahan angin dan arus. Ketika arus mulai membawa kita cukup jauh dari area 'break', maka segeralah menepi ke pantai, dan kita bisa ‘paddle out’ lagi ke area break. “Itu gunanya agar kita dapat menghemat tenaga dan tidak berusaha melawan arus.

Selain acara surfing, pada event yang digagas Hurley pada Minggu pagi, (26/10) itu juga digelar pameran karya dari 'Acehouse Collective' Jogja. Komunitas ini melakukan aktivitas Mural di sekitar area pantai yang bertujuan untuk memperindah area pantai. Juga ada presentasi Project Seni "Break The Myth", yaitu proyek kolaborasi antara Acehouse dan Hurley berupa instalasi rumah pantai. Selain berfungsi sebagai karya seni, rumah ini adalah bangunan permanen yang kemudian dapat difungsikan oleh warga sekitar dalam kegiatan menjaga keamanan pantai, sekaligus menerapkan pelatihan yang diberikan oleh Hurley team dalam aktivitas sehari-hari. 

instalasi ini sekaligus dapat menjadi monumen pecahnya mitos Parangtritis sebagai pantai anti surfing yang ada selama ini. (*)


foto: Bramasto Adhy


*Sebagian tulisan pernah dimuat di Tribun Jogja pada dua artikel berbeda



You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured