Materialisme & Mistisisme George Harrison

/
3 Comments
"Without going out of your door
You can know all things on Earth
Without looking out of your window
You could know the ways of Heaven

The farther one travels
The less one knows
The less one really knows

Arrive without travelling
See all without looking
Do all without doing"

Lirik di atas adalah petikan dari tembang 'The Inner Light' milik The Beatles yang direkam tahun 1968. Percaya atau tidak, lagu yang ditulis oleh George Harrison ini membuat saya selalu berjoget sejak pertama mendengarnya lewat album Past Masters vol 2. Album bersampul putih tersebut dibelikan ibu sewaktu saya beranjak remaja. Lagu tersebut sudah tentu amat berbeda dengan nuansa musik Rock & Roll di lagu-lagu Beatles lainnya. Menyimak isi yang terkandung dalam liriknya, saya pun semakin terkesima dengan sosok George Harrison, Beatle yang paling kalem dan amat tenang perangainya.

Dalam otobiografinya 'I, Me, Mine' George menulis jikalau lagu itu terinspirasi dari surat Juan Mascaro, seorang sarjana Sansekerta di Cambridge University, yang mengirimi salinan bukunya tentang antologi luas dari tulisan-tulisan agama, termasuk beberapa dari Tao Te Ching, buku tersebut berjudul 'Lamps of Fire'. 

Pada awal dekade 70-an setelah bubarnya The Beatles, George Harrison mulai bersolo karir. Ia menulis lagu dan memainkan gitar, dan karya-karyanya yang dirilis sebagai singel atau album, mendapatkan pengakuan dalam dunia musik. Sebelumnya, semasa masih berkarir bersama The Beatles, George Harrison telah menciptakan musik untuk soundtrack film Wonderwall (1968) yang berjudul Wonderwall Music, ia juga merilis musik religius Hindu dalam The Radha-Krishna Temple Album (1969). Perlu dicatat lewat lagu Norwegian Wood di album Rubber Soul, George ialah musisi pertama yang memperkenalkan sitar ke dunia pop.

Pada musim panas tahun 1969, George Harrison menampilkan lagu spiritual berjudul "Hare Krishna Mantra" untuk Kuil Radha Krishna, London. Pada tahun yang sama, ia dan John Lennon bertemu dengan Swami Prabhupada, pendiri Hare Krishna Movement di Tittenhurst Park, Inggris. Tak lama setelah itu, ia mengikuti aliran Hare Krishna dan mulai menyatakan diri sebagai pengikut setia Krishna sampai akhir hayatnya. George Harrison juga adalah seorang vegetarian. Menurutnya "Melalui Hinduisme, saya merasa jadi orang yang lebih baik. Saya menjadi lebih bahagia dan lebih bahagia. Saya sekarang merasakan saya tidak terbatas dan saya lebih terkendali


George & Ravi

Kecintaan George pada budaya dan mistisisme India bisa jadi bermula sejak tahun 1966. Saat itu George pergi ke India untuk belajar bermain sitar dengan pandit Ravi Shankar, di sana pula ia bertemu dengan Maharishi Mahesh Yogi, yang kemudian membuatnya berhenti menggunakan LSD dan narkotika lainnya. George juga mendalami meditasi selama berada di India. Ia memberi pengaruh kepada banyak seniman dan musisi bahwa pemakaian obat-obat terlarang sangat tidak bermanfaat, dan menjadi seorang vegetarian membuat ia bahagaia. George pun mengaku memiliki imajinasi tanpa batas tanpa menggunakan narkotika dan sejenisnya.

Pengalaman spiritual George Harrison tercermin dari lirik-lirik lagu yang mengandung ajaran Hindu."Within You Without You" di album Sgt. Pepper merupakan musik India yang mengandung makna merealisasikan semua yang ada di dalam diri. Pada tahun 1970, George merilis album berjudul 'All Things Must Pass'. Di album ini terdapat tembang yang menjadi hit papan atas tangga nada, lagu berjudul 'My Sweet Lord' ini adalah rekaman pertama mantan anggota Beatles yang menduduki puncak tangga lagu.

Di lagu 'My Sweet Lord' George menulis lirik: "I really want to see you," "I really want to know you ... I really want to be with you..." dengan reffrain yang diulang ulang, ia bersenandung "Hallelujah," dan memuji Hare Krishna, Brahma, Vishnu dan Shiva (Maheswara). Lewat lagu ini George ingin menunjukkan bahwa suara puji-pujian di dalam Kristen dan Hindu cukup sama adanya.


Meskipun diliputi kekayaan dan ketenaran, George selalu senang dan nyaman untuk duduk dengan orang-orang suci, para resi, para Brahmana lalu membahas Upanishad dan Bhagavad Gita. George bekerja keras untuk menundukkan egonya sendiri dan memahami kebenaran di luar penampilan fisik. Dia lebih suka menjadi seseorang yang rendah hati. Namun empatinya untuk penderitaan rakyat membuat George menjadi ujung tombak sebuah konser amal Rock & Roll tebesar pertama. Pada tahun 1971 dalam 'Concert for Bangladesh', George mengundang Bob Dylan, Eric Clapton, Billy Preston, Ringo Starr, dan Leon Russell di depan 40.000 orang di Madison Square Garden, New York. Konser ini mengumpulkan dana sebesar $ 240,000 yang disumbangkan melalui George Harrison Fund for Bangladesh relief. 



Bersama Bob Marley - Bob Dylan - Eric Clapton

****

                     "Living In the Material World"

Awal tahun 60an pertunjukkan Beatles di Hamburg, Jerman selalu laris. Mereka bermain musik berjam-jam dan mengakibatkan jalanan macet dipenuhi orang yang keluar masuk menonton pertunjukkan mereka. Saat itu George Harrison yang masih berusia 17 tahun, berbohong kepada petugas imigrasi Jerman mengenai usianya agar bisa tinggal di Hamburg.

George lahir di Liverpool, Inggris, 25 Februari 1943. Ayahnya bernama Harold Harrison bekerja sebagai supir bus. Seperti kebanyakan remaja lainnya ketika itu, George remaja menyukai musik Rock & Roll dan Skiffle. Pada usia 14 tahun, ia membeli gitar pertamanya yang berharga £ 3 pound. 




Saat bersekolah di Liverpool Institute ia berteman dengan Paul McCartney. Bersama abangnya Pete dan teman-teman Arthur Kelly, George membentuk grup musik Skiffle bernama The Rebels. Karena kemampuan bermain gitarnya yang baik, Paul mccartney mengajaknya bergabung dengan The Quarrymen, grup musik rock yang bentukan John Lennon.


George pernah menikahi model cantik bernama Pattie Boyd pada tahun 1966, tapi kemudian ia bercerai pada tahun 1971 dan tidak memiliki anak. Boyd kemudian menikahi sahabat dekat George, Eric Clapton. Meski terjadi cinta segitiga, namun ketiganya selalu berteman baik. George menikah lagi pada tahun 1978 dengan orang Amerika bernama Olivia Trinidad.

Tahun 1982 setelah merilis album 'Gone Troppo', George beristirahat dari dunia musik. Kehidupannya difokuskan kepada kegemaran akan balap mobil dan produksi film. Ia mendirikan PH film bernama Handmade Films. Beberapa film yang telah dihasilkannya antara lain "Life of Brian" (1979), "Time Bandits" (1981) dan "The Missionary" (1982). di Los Angles, California, Amerika, 29 November 2001 George meninggal pada usia 58 tahun. 

Gary Tillery lewat bukunya 'Working Class Mystic' telah menganalisis kehidupan George Harrison dan menelaahnya melalui lensa keyakinan agama dan spiritual. Dalam buku tersebut kita melihat George Harrison bukan sebagai super-selebriti yang selalu memanjakan diri sendiri, tetapi sebagai seorang idealis yang mempertahankan kemanusiaannya melalui semua itu, George adalah contoh bagi kita semua bagaimana bisa berbagi berkat dengan orang lain baik secara material maupun spiritual. 



George selalu bisa menemukan cara untuk mengatasi berbagai mesalah dan kemelut dalam hidupnya. Ia tidak pernah menyerah dalam 'pencarian' diri sejati dan mengembangkan kemurnian batiniyah. Sebagaimana ia pernah berkata: "Segala sesuatunya dapat menunggu, namun dalam mencari Tuhan, tidak bisa menunggu dan juga cintailah sesama."

Jika John Lennon menyebut dirinya 'Working Class Hero', maka George Harrison ialah seorang 'Working Class Mystic'. (*)







You may also like

3 comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured