Sejarah Mayday, Aksi Nyata Anarkisme

/
0 Comments
Mayday - its anarchist origins and meaning today


Festival Mayday, atau yang kita kenal sebagai Hari Buruh Internasional 1 Mei adalah merupakan hari yang sangat penting bagi pergerakan kaum buruh. Mayday adalah sebuah hari solidaritas berskala internasional. Sebuah hari untuk mengenang perjuangan masa lalu dan harapan-harapan kaum buruh untuk masa depan yang lebih baik. Meskipun sejak dulu telah dibajak oleh birokrasi kaum Stalinis di Soviet dan di seluruh dunia, sejarah Mayday sendiri sangat erat kaitannya dengan pergerakan kaum anarkis dan perjuangan kaum pekerja demi terwujudnya sebuah dunia yang lebih baik. Sejarah Mayday ini berasal dari eksekusi empat anarkis Chicago di tahun 1886 karena mengorganisir para pekerja dalam memperjuangkan delapan jam kerja sehari. Karenanya, May Day juga disebut-sebut sebagai salah satu produk “anarchy in action” – produk dari perjuangan kaum buruh dan pekerja untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

Di Indonesia, Hari Buruh Sedunia pertama kali dirayakan di Surabaya pada 1 Mei 1918, hari itu bahkan juga disebut-sebut perayaan Mayday pertama kali di Asia. Perayaan ini diinisiasi Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan dan dihadiri oleh Sneevliet dan Bars dari ISDV (embrio Partai Komunis Indonesia). Saat itu Mayday hanya menarik orang-orang Eropa dan hampir tidak ada orang-orang pribumi. Sejak tahun 1918 hingga 1926 gerakan buruh mulai secara rutin memperingati Hari Buruh Sedunia, biasanya dibarengi dengan pemogokan umum besar-besaran.

Pada Hari Buruh Sedunia tahun 1921, Tjokroaminoto, ditemani muridnya Soekarno naik ke podium untuk berpidato mewakili Serikat Buruh di bawah pengaruh Sarekat Islam. Pada tahun 1923, Semaun menyapaikan dalam rapat umum VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) di Semarang untuk melancarkan pemogokan umum. Isu utama yang diangkat adalah 8 jam kerja, penundaan penghapusan bonus sampai janji kenaikan gaji dipenuhi, penanganan perselisihan ditangani oleh satu badan arbitrase independen, dan pelarangan PHK tanpa alasan. 
****

Sejarah Mayday bermula di era 1880-an di Amerika Serikat. Pada tahun 1884, Federasi Kaum Buruh dan Pedagang Amerika dan Canada (di bentuk pada tahun 1881, dan lalu merubah namanya pada tahun 1886 menjadi Federasi Kaum Buruh Amerika) sepakat untuk menyatakan tuntutan terhadap pemerintah untuk melegalkan delapan jam kerja sehari dan ini harus dilaksanakan mulai tanggal 1 Mei 1886. Untuk mendukung tuntutan ini, Federasi Buruh Amerika telah mengeluarkan seruan untuk mogok di 1 Mei 1886.
Di Chicago, kaum anarkis merupakan kekuatan utama gerakan serikat, dan secara terpisah sebagai akibat keberadaan mereka, serikat-serikat menterjemahkan hal ini ke dalam pemogokan di 1 Mei. Kaum anarkis di sana berpendapat bahwa tuntutan delapan jam kerja sehari tersebut hanya bisa diwujudkan dengan jalan melancarkan aksi solidaritas. Mereka beranggapan bahwa perjuangan reformasi, seperti halnya delapan jam kerja sehari, belumlah cukup bagi mereka. Kaum anarkis melihatnya hanya sebagai salah satu pertempuran kecil dalam sebuah perang kelas yang sedang terjadi dan perang kelas tersebut hanya dapat di akhiri dengan jalan revolusi sosial dan pembentukan sebuah masyarakat yang bebas. Karena ide inilah kaum anarkis Chicago mengorganisir sebuah pergerakan.
Pada tanggal 3 Mei 1886, 400 ribu pekerja melancarkan aksi turun ke jalan, dan ketika kerumunan para pendemo ini sampai di depan McCormick Harvester Machine Company, sejumlah besar aparat polisi tiba-tiba menyerbu dan melepaskan tembakan ke tengah-tengah kerumunan, seorang anggota serikat pekerja terbunuh dalam insiden tersebut dan enam rekannya mengalami luka yang serius. Hari berikutnya, kaum anarkis Chicago mengadakan sebuah pertemuan besar di alun-alun Haymarket sebelum melancarkan aksi untuk memprotes kebrutalan polisi dalam insiden di depan McCormick Harvester Machine Company tersebut.


Ketika sekelompok pendemo yang jumlahnya ratusan ribu tersebut sampai di alun-alun Haymarket, tiba-tiba datang sejumlah besar aparat kepolisian yang diperintahkan untuk membubarkan aksi tersebut. Dan tanpa ada yang mengetahui, tiba-tiba sebuah bom dilemparkan dan menghunjam tepat ke arah 180 orang opsir polisi, yang lalu dengan kontan melepaskan tembakan kearah para pen-demo. Berapa besar jumlah korban dari pihak sipil yang luka-luka atau terbunuh dalam insiden tersebut tidak pernah diketahui secara pasti, namun diketahui bahwa 7 orang polisi tewas (ironisnya, hanya seorang opsir yang yang menjadi korban bom Molotov yang dilemparkan oleh orang tak dikenal dan enam sisanya tewas di hunjam peluru dari senapan yang ditembakkan oleh rekan-rekan mereka). [selengkapnya baca The Haymarket Tragedy, karya Paul Avrich]
Beberapa hari setelah insiden tersebut, aula-aula tempat rapat, kantor serikat, percetakan dan rumah-rumah pribadi milik warga Chicago digeledah oleh pihak berwajib (dan tanpa surat perintah atau peringatan terlebih dahulu). Penyerbuan ke area “working-class” (kelas pekerja/buruh) tersebut menjadikan polisi lebih leluasa untuk menangkap dan menahan sejumlah anarkis dan kaum sosialis lainnya. Tak sedikit dari tahanan (yang kebanyakan dari golongan anarkis) yang dipukuli dan disiksa. “Serbu dahulu dan kita cari alasan (hukum) sesudahnya”, itulah pernyataan yang dilontarkan oleh J. Grinnell, seorang penuntut hukum setempat kala itu, ketika muncul satu pertanyaan tentang adakah surat peringatan atas penggerebekan besar-besaran tersebut. [selengkapnya baca di “Editor’s Introduction“, dalam buku The Autobiographies of the Haymarket Martyrs]


Delapan tokoh anarkis Chicago diadili karena dituduh terlibat dalam pembunuhan (korbannya adalah beberapa orang dari pihak kepolisian dalam insiden di Haymarket). Meski tak pernah terbukti bahwa para terdakwa membawa atau melaksanakan pem-boman dalam aksi mogok yang berakhir ricuh tersebut. Hakim yang memimpin jalannya persidangan kala itu mengatakan, tidak penting untuk mengetahui atau membuktikan siapa pelaku pem-boman sebenarnya, dan siapa dalang dibalik peristiwa kerusuhan tersebut. Bahkan hukum kala itu tidak pernah memberikan bukti kongkrit bahwa para terdakwa tersebut bersekongkol untuk melakukan provokasi dan aksi pem-boman. Faktanya, hanya tiga dari delapan terdakwa yang ikut dalam aksi mogok dan ketika terjadi insiden pem-boman di Haymarket.
Alasan mengapa delapan orang terdakwa tersebut di tahan dan diadili adalah karena ideologi anarkisme mereka dan serikat-serikat yang mereka dirikan, seperti dikatakan oleh jaksa penuntut umum kepada juri yang hadir dalam persidangan tersebut bahwa “Hukum sedang mendapat peradilan. Anarki sedang mendapat peradilan. Orang-orang ini telah terpilih, diambil oleh dewan juri, dan dituduh karena mereka merupakan para pemimpinnya. Mereka tidak lebih bersalah dibandingkan lebih dari puluhan ribu orang yang mengikutinya. Juri yang terhormat: hukum orang ini, jadikan ini sebagai peringatan bagi mereka, gantung mereka dan anda akan menyelamatkaan institusi kita, masyarakat kita.” Para terdakwa pun tidak di perbolehkan untuk melakukan pembelaan ketika pimpinan juri mengatakan kepada publik bahwa “saya telah meneliti kasus ini dan saya tahu akan apa yang harus saya katakan. 


Orang-orang ini (para terdakwa yang dalam kenyataannya tidak bersalah) harus dijatuhi hukuman mati dengan jalan di gantung”. Sangat tidak mengherankan jika para terdakwa dinyatakan bersalah, karena Juri-juri tersebut merupakan juri yang dipilih sendiri oleh jaksa penuntut umum yang terdiri dari para pengusaha dan keluarga polisi-polisi yang terbunuh dalam insiden Haymarket. Tujuh orang dari para terdakwa dihukum gantung, dan seorang di jatuhi hukuman 15 tahun penjara.
Sebuah kampanye internasional memberi hasil dua orang dicabut dari hukuman mati dan diganti dengan hukuman seumur hidup. Dari kelima orang sisanya, seorang diantaranya (Louis Lingg) bunuh diri beberapa saat sebelum eksekusi. Kempat sisanya (Albert Parsons, August Spies, George Engel dan Adolph Fischer) dihukum gantung pada 11 November 1887. Dalam sejarah kaum buruh dan anarkis, keempat orang tersebut dikenal dan dikenang sebagai para Martir Haymarket. Pemakaman keempat pahlawan kaum buruh dan pencetus lahirnya sistem kerja delapan jam sehari ini dihadiri oleh lebih dari 500 ribu kaum buruh yang simpati pada para Martir Haymarket tersebut.
Pada tahun 1889, delegasi Amerika yang menghadiri sebuah kongres para Sosialis berskala Internasional yang dihelat di kota Paris mengusulkan agar 1 Mei dijadikan sebagai hari libur para pekerja/kaum buruh. Hal ini dilakukan untuk memperingati dan menghormati perjuangan kaum buruh dan “pengorbanan delapan orang buruh dari Chicago (martir haymarket)”. Sejak itu 1 Mei (Mayday) menjadi satu hari yang istimewa bagi para kaum buruh internasional.



*****
Sejak hari Kemerdekaannya, Peringatan Hari Buruh Sedunia kembali mulai diperingati pada 1946. Pada tahun 1948, kendati dalam situasi agresi militer Belanda, perayaan Hari Buruh Sedunia berlangsung besar-besaran. Saat itu, 200 ribu hingga 300 ribu orang membanjiri alun-alun Yogyakarta, untuk memperingati Hari Buruh Sedunia. Menteri Pertahanan, Amir Sjarifoeddin, memberikan pidato kepada massa buruh dan rakyat di alun-alun itu. Selain Amir, Menteri Perburuhan dan Sosial Kusnan dan Ketua SOBSI Harjono juga memberi pidato. Hatta dan Panglima besar Jend. Soedirman juga hadir dalam perayaan hari buruh ketika itu. Dan, di tahun 1948, dikeluarkan UU Kerja nomor 12/1948 yang mengesahkan 1 Mei sebagai tanggal resmi hari Buruh. Dalam pasal 15 ayat 2 UU No. 12 tahun 1948 dikatakan: “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja”.



Perayaan Hari Buruh Sedunia selama masa Bung Karno berlangsung meriah dan reguler. Namun sejak Rejim Militer Soeharto naik perayaan Hari Buruh Sedunia dilarang. Rejim Militer Soeharto menganggap perayaan Hari Buruh Sedunia adalah tindakan subversive, melawan hukum. Demikian Rejim Militer Soeharto hanya mengakui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang didirikan pada 20 Februari 1973 sebagai satu-satunya serikat buruh. Kemudian hari lahir SPSI ditetapkan sebagai Hari Pekerja Nasional, Hari Buruh Sedunia pun dilupakan.

Ketika Rejim Militer Soeharto berhasil digulingkan pada 21 Mei 1998, maka Hari Buruh Sedunia kembali dirayakan. Di era selanjutnya pada Senin (29/7/2013) malam, mantan Presiden SBY melalui akun Twitter resminya, @SBYudhoyono berkicau: "Hari ini, saya tetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional dan dituangkan dalam Peraturan Presiden." 

Kini, meski telah banyak organisasi serikat buruh, ternyata kelas buruh masih belum mampu memperjuangkan hak-haknya secara signifikan. Pemerintah juga dirasa belum optimal  menjembatani kepentingan buruh dan pemodal. Bahkan dalam situasi tertentu, buruh yang mudah terbakar, dimanfaatkan sebagai alat politik semata. Gerakan mereka ditunggangi demi tujuan politik jangka pendek seperti menjelang pemilu. Maka, perlu adanya pendidikan bagi kaum buruh untuk memperjuangkan harapan. Sehari setelah Mayday bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional, pendidikan dapat menumbuhkan kesadaran politik dan berperan penting agar buruh mampu mengakomodasi situasi terkini. (*)

Mari kita resapi puisi Widji Thukul berikut:

Sehari Saja Kawan.

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan
Satukawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan
Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!
Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan
Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati
Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati
Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!



....dikutip, disadur, dan dibajak dari berbagai sumber*



You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured