ARTIVISME: Punk Rock di Ruang Akademis || #JogjaOraDidol #BaliTolakReklamasi

/
0 Comments

Mahasiswa disebut-sebut sebagai generasi penerus dan masa depan bangsa. Lebih dari itu, sebenarnya anak muda adalah generasi pencetus. Generasi pencetus yang menelurkan perjuangan baru sekaligus meneruskan perjuangan lama yang belum tuntas. Untuk menjadi penerus perjuangan tersebut diperlukan kekritisan. Kritis untuk mengkritisi kebenaran suatu hal, juga kritis mengaji dan mendalami sebuah permasalahan. Selanjutnya, kritis menanggapi hasil kajian untuk diwujudkan dalam tindakan nyata.



Namun kecenderungan yang ada saat ini, wacana kritis adalah sesuatu yang banyak dihindari anak muda karena dianggap membosankan, tidak menyenangkan, dan tidak penting. Kuat dugaan penghindaran ini terjadi karena anak muda hanya bertemu dengan wacana kritis ketika mereka mengonsumsi media massa yang konvensional. Media yang selama ini hanya berisikan sisi gelap kekrtitisan tanpa menumbuhkan harapan, hanya mengutuk kegelapan tanpa menyalakan pelita.

Singkatnya, “anak muda telah terhegemoni !”

Pada Minggu, (25/10) bertempat di Auditorium Driyarkara Kampus II, Universitas  Sanata Dharma Mrican. Kementerian Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa, BEM USD menggelar diskusi bertajuk ARTIVISME. Yang menjadi narasumber pada diskusi tersebut ialah I Gede Ari Astina alias JRX (drummer Superman Is Dead) dan Andrew Lumban Gaol (Anti Tank Project), dengan saya sendiri (Kiki Pea) sebagai moderator.

Dalam menjalani aktivismenya, terutama terkait gerakan #BaliTolakReklamasi JRX kerap mendapatkan ancaman, seperti didatangi orang-orang berbadan kekar, mendapat teror, hal-hal yang tidak wajar, dan beredarnya selebaran yang berisi kabar miring yang sifatnya menjatuhkan. Begitu juga yang dialami Anti Tank Project ketika beraksi lewat karya street art nya yang seringkali mengritisi borjuasi, feodalisme, dan para pemangku kebijakan.


Aktivisme JRX bersama ForBali bisa disimak di sini >>  http://www.forbali.org/id/
Tentang Anti Tank Project >>  panjang umur pembangkangan

Setelah menjelaskan banyak hal tentang aktivisme yang dilakukan JRX pada kampanye Bali Tolak Reklamasi, dan Anti Tank yang kampanye sosial, politik, dan kemanusiaan lewat karya street art nya, pada audiens pun melontarkan banyak perntanyaan. Di antaranya pertanyaan mengapa JRX memperjuangkan ekologi ? Pada kesempatan tersebut JRX menjawabnya dengan tegas bahwa karena pada akhirnya, manusia membutuhkan alam. “Sekaya apapun orang, ia akan membutuhkan makanan dari alam. Pada akhirnya orang kaya juga tidak akan bertahan hidup dengan makan uang!”.


Pada satu kesempatan, seorang aktivis warga di Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang datang pada acara tersebut menjabarkan apa yang terjadi di wilayahnya. Ia meminta agar kasus asap yang melanda Palangkaraya diangkat ke publik. Di sana diperlukan jaringan antar kota agar berita dapat sampai di masyarakat kota lain hingga nasional, “karena memang kami (orang Palangkaraya) belum bisa berdiri sendiri seperti misalnya Jogja dan Bali yang memiliki jaringan yang kuat,” ujar pria bernama Yoan Vallone tersebut.
Ia menanyakan bagaimana cara membuat ‘suara’ orang Kalimantan, yang kasusnya juga parah namun masih kurang nyaring terdengar sampai nasional, seperti misalnya Bali Tolak Reklamasi yang kini banyak orang yang tahu, karena ada JRX yang mendukung dan ikut pengkampanyekan isu tersebut. JRX memberi saran bahwa satu di antaranya dengan menghubungi artis yang berasal dari Kalimantan Tengah, dan meminta artis tersebut untuk bersuara. Namun, sayangnya artis yang dimaksud si penanya, ternyata juga seorang yang terlibat dengan pengusaha sawit. JRX sendiri secara pribadi mengaku mendukung, dan akan ikut mengampanyekan masalah di Kalimantan.


Pertanyaan lain ialah tentang perbedaan vandalisme dan mural yang dilakukan oleh Anti Tank. Pada kesempatan ini Andrew menjawab bahwa pada dasarnya vandalisme muncul ketika ada yang namanya ‘kepemilikan’ bangunan oleh seseorang, dan ia melarang orang lain untuk ‘mengganggu’ bangunannya. Namun untuk bangunan yang tak berpemilik, semisal kolong jembatan layang, Andrew lebih mendukung orang-orang yang melakukan vandalisme daripada ruang tersebut diisi oleh iklan.


Diskusi yang digelar lebih dua jam dan dihadiri peserta sebanyak 600 orang tersebut berjalan dengan hangat, ada beberapa peserta yang mengungkapkan pendapatnya soal acara ini. Mereka berpendapat bahwa acara seperti ini menambah pengetahuan, karena itu sebaiknya juga digelar workshop-nya. “Artivisme iki membuka mata saya akan mawutnya negeri ini!” tegas seorang yang hadir.

Suara lain mengatakan: “ini adalah acara break-through di Sanata Dharma, karena berani mendatangkan ‘orang kotor’ untuk menjadi pembicara”.




Akhirnya seni memang merupakan media yang bisa digunakan untuk menggugah kekritisan anak muda sebagai penerus maupun pencetus. Seni juga adalah produk budaya bisa menjadi upaya memanusiakan manusia. Lewat diskusi ini anak muda selayaknya difasilitasi untuk bertemu dengan seni yang kritis untuk menggugah kekritisan. Pertemuan ini diharapkan akan mengubah perspektif kekritisan, menyebarkan bibit kekritisan, dan yang utama agar kebaikan selalu diteruskan dan dicetuskan dalam tindakan nyata untuk semakin memanusiakan manusia.

Akhir kata, Punk Rock memang bukan tentang begini, dan begitu, tapi racunnya bisa masuk lewat musik, seni jalanan, sastra, jurnalisme, dan lainnya. (*)


                                          Panjang Umur Pembangkangan !!


sebagian foto dijepret oleh Romo P. Mutiara Andalas, SJ.




You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured