Eko Ompong & The Rusty Grill: Tembang Tembang Proletar Dengan Balutan Folk-A-Billy

/
0 Comments
“Street Troubadour, Folk-A-Billy, Live Recording!”

MUSISI yang hebat tidak mesti datang dari sekolah musik ataupun institusi pendidikan formal lainnya. Banyak musisi hebat yang berasal dari jalanan, menempa ilmu dan mengawali karirnya dengan menjadi seorang pengamen jalanan. Sebut saja nama-nama seperti Iwan Fals, yang dikenal dengan lagu lagu kritik dan menyuarakan kehidupan kaum pinggiran. Selain itu masih ada Leo Kristi, dan Gombloh, legenda asal Surabaya bernama asli Soedjarwoto Soemarsono tersebut dikenal dengan lagu-lagu realis bercorak nasionalisme.


Satu lagi penyanyi yang bersuara tentang kenyataan hidup kaum bawahan yang hadir saat ini, namanya Eko Ompong, ia berasal dari jalanan, dan lama menempa karir sebagai pengamen. Bersama musisi pendukung The Rusty Grill, lagu-lagu ‘Folkabilly’ ciptaan Eko Ompong direkam, dan dirilis oleh Rockin Spades Record Yogyakarta. Di album yang diproduseri Laine Berman & Athonk ini, Eko diiringi oleh tiga musisi muda, mereka ialah personel dari band Rockabilly Kiki & The Klan, Okky (Electric Guitar), Dhana (Slapp Bass), Wredha (Drum). Pesta peluncurannya digelar Senin, (28/3) lalu di Asmara Coffee Shop, Jl Tirtodipuran Yogyakarta. Acara tersebut juga bersamaan dengan perayaan 4th Anniversary Kiki & The Klan.


Terdapat enam lagu folk, yakni nyanyian rakyat yang dibalut dengan permainan Rockabilly oleh The Rusty Grill. Beberapa di antaranya menggunakan bahasa Jawa. Pada lagu ‘Arus Bawah’, Eko membingkai keadaan sosial politik dari perspektif kaum marjinal. “Di Negara mana yang tak haus akan darah, Berlomba lomba mencari kedudukan, di adu domba ..... Revolusi atau kudeta” begitu teriak Eko di permulaan lagu. Bagian reff pada lagu ini seolah mengingatkan kita pada mars yang dinyanyikan para demonstran saat aksi massa.

teaser bisa didengar di siniArus Bawah - Eko Ompong & The Rusty Grill



Pada lagu ‘Anak Jaman’, Eko mengamati gaya anak muda yang dianggap trendi, dengan bahasa Jawa yang kental ia bersenandung, “Wes jaketan isih nganggo rompi, pating crentel bandul sarwo wesi, soko rante nganti kunci lemari, nadyan abot asal dibilang funky”. Sedangkan pada lagu ‘Den Bei’, Eko mengisahkan seorang yang sudah tua, namun selalu tampil trendi, “Den Bei ingin jadi penyanyi. dandanane kaya Elvis Presley. Rambut di jambul karepe ben aksi. Saking bingung nganggo dasi ngarep mburi”

Pada lagu ‘Kantong Kosong’ dengan santainya Eko mengambil lagu ‘Party Doll’ milik Mick Jagger dan menyanyikan kisah cinta kaum pinggiran dengan lirik berbahasa Jawa. Di lagu ‘Romantika Malioboro’ Eko bercerita bagaimana kawasan di Yogyakarta yang selalu padat itu dari kacamata para pengamen, dan mereka yang mengais rejeki di jalanan tersebut.   




Sebagai produser, Laine Berman telah mengenal Eko sejak 1991. Saat itu ia terlibat dalam proyek penelitian tentang gender dan kekerasan di perkampungan di Jogja. Sejak itulah Laine berkenalan baik dengan komunitas anak jalanan yang menjadikan Jogja sebagai rumah mereka, termasuk juga Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ Malioboro).

Sebagai seorang peneliti budaya Jawa, menurut Laine anak-anak jalanan mengajarinya bagaimana terlibat menjalani kehidupan dengan cara-cara baru yang radikal, terutama saat itu adalah 1991, dimana kekuasaan Rezim Orde Baru sedang tertanam kuat. Di antara para pengamen jalanan tersebut, sosok Eko Ompong benar-benar menarik perhatiannya. “Eko dan saya menjadi dekat karena, sebagai satu di antara puluhan pengamen jalanan, ia sosok yang unik,” kata perempuan asal Amerika Serikat ini.

Pada tahun 1992 Laine pernah merekam lagu-lagu Eko Ompong lewat alat perekam sederhana miliknya. Rekaman tersebut kemudian dijual dan dana yang terkumpulkan digunakan untuk membelikan Eko gitar baru. Pada 2015 ia kembali merekam lagu-lagu Eko Ompong agar bisa dinikmati khalayak yang lebih luas.




Laine bercerita bahwa musik bertemakan protes sosial di awal 90an hanya terbatas pada pertemuan para aktivis. Sebelumnya ia tidak pernah mendengar apapun dari lagu-lagu kritik sosial yang lahir dari jalanan Malioboro. “Lagu-lagu Eko Ompong benar-benar hidup, lucu, sedih, politik, benar-benar lokal, dan benar-benar asli,” ujarnya.

Untuk mendapatkan album ini di Yogyakarta bisa ke Rumble Royale Jalan Wirobrajan, Electrohell Shop Jl Prawirotaman, atau di Doggy Shop Jalan Nogosari Kraton. Untuk pemesanan online silakan inbox FB Athonk Sapto Raharjo.


Setidaknya album ini menjadi catatan sejarah baru, dimana dahulu kala irama Rock & Roll yang dianggap ‘Ngak Ngik Ngok’ dan Kontra Revolusioner, kini justru digunakan untuk menyuarakan kaum proletar, seperti kata Eko Ompong lewat nyanyiannya, “Berkobarlah Bagai Api Revolusi!” (*)




You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured