Sepeda Motor Sebagai Fesyen dan Identitas Rock & Roll

/
0 Comments
Fesyen menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian kita. Fesyen tidak hanya menyangkut soal busana dan aksesoris pendukungnya, seperti kalung, gelang, hingga body piercing dan tato. Jauh dari itu, benda-benda fungsional lain yang dipadukan dengan desain yang unik lagi canggih, menjadi representasi si pengguna. Bermacam jenis kendaraan seperti motor, mobil, sepeda, bahkan kuda, dan lainnya bukanlah sekadar alat transportasi belaka, lebih dari itu, kendaraan juga menjadi sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan identitas seseorang. Singkatnya, fesyen adalah perlambang jiwa, dan tak bisa di pisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia. 


Penggunaan kendaraan merupakan salah satu cara berekspresi. Dalam modernitas, fesyen adalah konstituen penting identitas seseorang, yang membantu menentukan bagaimana dia dikenali dan diterima. Mari menyoroti bagaimana kendaraan, dalam hal ini sepeda motor sebagai fesyen pada kultur Rock & Roll, melalui bagaimana cara para pengusungnya menggunakan kendaraan sebagai sebuah identitas. Para bintang rock, termasuk beberapa geng motor dengan pilihan kendaraan roda dua mereka setidaknya bisa menjadi representasinya. 

Satu di antara gaya motor yang dipopulerkan di London pada tahun 50-an adalah café racer. Gaya ini berawal dari para biker yang mengiginkan motor cepat dan digunakan untuk balapan dari café ke café. Mereka menggunakan cafe sebagai titik start dan finish-nya. Faktor utama terbentuknya kultur Cafe Racer atau Rocker adalah booming-nya budaya anak muda dan ‘anti-heros’ yang baru pada tahun '50-an. Saat itu adalah gencarnya raungan musik yang dipopulerkan penyanyi seperti, Eddie Cochran, Elvis Presley, dan Gene Vincent di radio-radio. Selanjutnya, Rock & Roll menjadi ancaman baru bagi masyarakat. 
Elvis Presley with Black Leather & Motorcycle

Marlon Brando (The Wild One - 1953)
Di dunia sinema Marlon Brando, James Dean dan ikon ‘rebel’ lainnya menyemarakkan layar perak dengan gaya jaket kulitnya. Tentunya ini membuat sepeda motor dengan lifestyle-nya yang khas dipandang 'cool'. Era 50-an memang sudah berlalu, namun sub kultur tersebut masih eksis. Irama rockabilly, doo wop, swing, hingga surf rock telah menjadi soundtrack para bikers sejak masa lalu, dan hingga kini bersamaan dengan banyaknya event otomotif, jenis musik yang populer di era 40an hingga 60an itu tetap membuat para bikers bergoyang.

Subkultur Rockers diisi oleh Ton-up Boys jumlahnya terus bertambah selama medio 1950an. Karena penampilannya berantakan, mereka sering dicap sebagai golongan pemuda-pemuda 'naif'. Anggapan itu semakin dipertegas oleh pandangan mereka yang melihat obsesi pada fesyen sebagai hal yang lebih jauh dari kesan maskulin. Bertolak belakang dengan yang dilakoni oleh subkultur Mods. Kalau subkultur Mods lebih sering terlihat berdandan smooth and clean, tak begitu dengan Rockers. Penampilan Rockers identik dengan jaket motor berbahan kulit dengan kancing logam. Berbagai emblem, pin, dan lencana ikut menghiasi jaket tersebut. 

Rockers - Leather Boys - Cafe Racers - Ton-up Boys
Saat berkendara, Rockers kerap menggunakan syal putih, aviator google, dan helm terbuka. Untuk gaya rambutnya, Rockers sering terlihat dengan potongan pompadour. Tempat yang jadi ikon subkultur Rockers sampai sekarang adalah Ace Cafe dan Chelsea Bridge. Pada masanya, Rockers tak diperbolehkan menginjakkan kaki di lantai dansa karena gaya pakaiannya yang tak sesuai dan kotor. Tapi, Rockers punya kontribusi besar dalam perkembangan dansa dansi Rock & Roll.

Rockers menggunakan sepeda motor yang komponennya sudah dipereteli. Mereka melakukan penyetelan ulang, lalu mendandaninya agar tampil seperti motor balap. Rocker tidak hanya menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi tapi juga simbol masikulinitas. Mereka percaya motor merupakan objek yang bisa menggambarkan lekatnya kehidupan mereka dengan bahaya.

Dave Vanian (The Damned) pada acara reuni
Ace Cafe tahun 1996

***

Menyoal soal kecelakaan bermotor, entah karena faktor perangai, maupun kecelakaan murni, ada beberapa Superstar yang pernah mengalaminya. Tahun 1966, Bob Dylan mengalami kecelakaan serius di dekat rumahnya di New York. Bob Dylan terbanting dari atas motornya Triumph Tiger 500cc, hingga mengalami cedera leher. Peristiwa ini membuatnya vakum dari tur dan aktifitas produktifnya selama delapan tahun. Kecelakaan fatal juga pernah menimpa mantan vokalis AC/DC Bon Scott sebelum ia terkenal dan sedang mengalami masa depresi. Pada tahun 1974, saat berusia 28 tahun, Bon Scott yang sedang mabuk terlibat adu mulut dengan personil band nya saat itu 'The Valentines'. Ia keluar venue dengan bringas, melempar botol Jack Daniels, dan berteriak-teriak ke arah motornya Suzuki 550cc lalu tancap gas. Tiga jam kemudian istrinya mendapat kabar bahwa Bon terlibat kecelakaan parah dengan mobil yang mengakibatkannya patahtulang iga, rahang, dan hampir semua gigi seri nya. Ia mendapatkan jaritan di sekitar leher, koma tiga hari, dan dirawat di rumah sakit selama 18 hari. Namun ternyata Bon selamat dari kecelakaan tersebut dan meraih sukses selama 6 tahun bersama AC/DC. Namun lantaran hobi berat menegak alkohol, ia tewas tersedak oleh muntah nya sendiri pada tahun 1980.

Bob Dylan
Gene Vincent (1969)

Rocker Legendaris Gene Vincent juga pernah mengalami kecelakaan. Saat itu tahun 1955, Gene masih terdaftar di Angkatan Laut, ia mengalami kecelakaan fatal saat mengendarai sepeda motor Triumph terbaru miliknya. Kaki kiri Mr 'Be Bop A Lula' ini hancur. Semua dokter menyarankan agar ia diamputasi, namun Gene memohon pada ibunya untuk tidak mengizinkan operasi tersebut. Karena kecelakaan itu, ia dibebaskan dari Angkatan Laut. Kakinya tetap rusak berat, ia memakai brace dari baja untuk kaki kirinya. Angkatan laut Amerika mungkin telah kehilangan seorang pelaut, tapi dunia mempunyai legenda Rock & Roll di kemudian hari.

***

Sepeda Motor juga identik dengan para musisi Hard Rock, dan Heavy Metal. Salah satu vokalis Deep Purple, Ian Gillan juga menggemari sepeda motor, bisa dibayangkan betapa 'cool'nya vokalis bersuara melengking ini mengendarai motornya sambil mendendangkan 'Speed King'. Nama-nama lain, (alm) Lemmy Kilmister (Motorhead), Axl Rose (GNR), James Hetfield (Metallica), Tommy Lee (Motley Crue), Jon Bon Jovi, dan Steven Tyler (Aerosmith) juga identik dengan sepeda motor mereka. Bahkan sang vokalis 'Aerosmith' yang juga penggemar motor kustom tersebut, pernah mendesain motor 'Dirico Motorcycle' yang sebelumnya bernama Red Wing Motorcycles. Steven Tyler juga berpartisipasi dalam berbagai lelang amal yang berkaitan dengan sepeda motor, termasuk program amal 'Ride for Children'.

Steven Tyler
Lemmy Kilmister
Jimmy Page
Led Zeppelin
Harley Davidson memang menjadi pilihan para rocker untuk menunjang citra mereka. Motor Gede (Moge) ini memang dikenal dengan suara ledakan atau gemuruh dari mesinnya. Motor Harley Davidson juga muncul di sampul album 'Gonna Ball' milik Stray Cats. Sang Frontman, Brian Setzer ialah seorang motor 'kustom enthusiast'. Pada beberapa sesi pemotretan, Elvis Presley juga tampak menunggangi motor Harley Havidson. 'King Of Rock & Roll' ini memang dikenal suka mengoleksi berbagai jenis motor. Selain itu, Elvis juga mengoleksi beberapa jenis mobil Cadillac. Gitaris legendaris Jimi Hendrix juga memakai sepeda motor Harley Davidson untuk sampul album 'South Saturn Delta'. Album yang menjadi hits di era 'generasi bunga' ini Jimi tampak menunggangi HD Panhead '48.


Stray Cats - Gonna Ball (1981)
Brian Setzer
Jimi Hendrix - South Saturn Delta 
Banyak klub Motor Harley Davidson yang terkenal di seantero dunia. Namun yang paling fenomenal ialah The Hell Angels Motorcycle Club (HAMC), atau yang lebih dikenal dengan nama Hell’s Angels. Mereka merupakan geng motor paling terkenal Amerika yang para anggotanya kebanyakan menggunakan motor Harley Davidson. Geng motor ini terdiri dari para pria bangkotan berwajah bromocorah. Dalam sejarah musik rock, Hell's Angels memiliki catatan kelam ketika terjadi kerusuhan pada konser The Rolling Stones. Konser dengan kadar kerusuhan terbesar yang jadi “catatan gelap” legenda rock n’roll ini terjadi di Altamont Speedway Free Festival, California. 

Pada konser gratisan tersebut Hell’s Angel dipakai sebagai Satgas tenaga keamanan, dengan korlap-nya Ralph “Sonny” Barger, ketua Hell’s Angels cabang Oakland. Kabarnya Hell’s Angels meminta segunung bir senilai 500 Dollar Amerika Serikat sebagai kompensasi pengamanan. Kerusuhan yang terjadi tak begitu disadari oleh para personel The Rolling Stones, mereka hanya menonton dari atas panggung, bingung, dan mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Tak lama setelah kerusuhan yang memakan korban jiwa tersebut, Mick jagger cs melanjutkan penampilannya sampai selesai 15 lagu. Konon, di lain kesempatan Ralph “Sonny” Barger menyatakan, The Rolling Stones bersedia meneruskan karena dirinya menyodorkan pistol ke gitaris Keith Richards, dan mengancam akan menembaknya jika sampai menghentikan pertunjukan. 


Hell’s Angels punya sejarah panjang dan aneka catatan kriminal di jalan raya Amerika. Mereka juga terkenal akan keterlibatan dengan urusan hukum seperti, distribusi narkotika, pencurian, pemerasan, pencucian uang, penyerangan, dan pembunuhan. Selain itu Hell's Angels kerap kali terlibat perkelahian dengan geng motor lainnya. Karena banyaknya kode kerahasiaan antar anggota geng, banyak informasi yang kabur tentang asal-usul mereka. Dipercaya Hell’s Angels kemungkinan dibentuk pada tahun 1940 atau 1950 di California.

Di Indonesia, motor Harley Davidson dikenal dengan harganya yang selangit, sehingga tak heran jika sebagian besar pengendaranya ialah para orang 'berpunya', termasuk pengusaha, selebritis, dan pejabat. Maka jangan heran jika di Amerika sana di belakang geng Motor yang menunggang HD, ada polisi yang mengejar-kejar karena 'kriminalitas' mereka, maka di negeri ini justru Polisi berada di depan 'mengawal' konvoi pada pengendara Harley Davidson. Ya, itulah Fesyen yang merupakan fenomena kultural, di baliknya ada ada 'nilai-nilai' yang ingin dikomunikasikan melalui apa yang ditampilkan. 

***
Di balik hingar bingarnya motor besar dengan suara mesin yang memekakkan telinga, dan geng motor yang terkadang berujung pada kriminalitas, atau menimbulkan semacam 'kecemburuan sosial', ada jenis motor yang setidaknya bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin bergaya 'Rockers'. Motor Honda CB ini juga identik dengan kultur Rock & Roll, pada sebuah foto, tampak Mick Jagger dengan santainya mengendarai Honda CB 350. Selain itu tampak juga band CCR, Elvis Presley, Michael Jackson, juga Paul McCartney sedang berfoto dengan Honda CB, bahkan band Hard Rock/Glam Metal, Kiss pernah jadi model iklan motor produksi Jepang tersebut.


Jacko
Sir Paul

Namun Rocker yang paling otentik menunggangi Honda CB ialah Sid Vicious. Bassist The Sex Pistols ini tampak sedang menunggangi Honda CB 350. Sedangkan pada video klip 'Something Else', Sid tampak tampil semi bugil dan bernyanyi di atas motor BSA. Ada cerita mengabarkan bahwa sebenarnya Sid sangat ingin memiliki Motor Triumph, namun keinginan Sid tersebut dihalang-halangi oleh Nancy pacarnya, dengan alasan Honda lebih murah. Nancy berhasil meyakinkan Sid bahwa mengendarai Honda juga tidak kalah kerennya, namun dibalik itu ternyata uang mereka habis dipakai untuk membeli heroin. Pada surat wasiat yang ditemukan di dalam saku jacket Sid setelah kematiannya, ia ingin dikubur bersama Sepatu boots, jaket kulit, dan calana jeansnya. “BURY ME IN MY LEATHER JACKET, JEANS AND MOTORCYCLE BOOTS”

Sid Vicious
Jika Sid Vicious memilih Honda karena alasan yang sangat 'junkie', maka saya sendiri memilih motor tersebut kerena hal lain, di antaranya tentu alasan kultural dan ekonomis. Bagi saya Honda CB itu motor kecil, lincah, dan tangguh, seperti kata The Beach Boys, band Surf Rock asal California di dekade 60-an lewat tembangnya 'Little Honda'

*First gear, it's all right (Honda, Honda, go faster, faster)
 Second gear, I'll lean right (Honda, Honda, go faster, faster)
 Third gear, hang on tight (Honda, Honda, go faster, faster)
 Faster, it's all right.

 It's not a big motorcycle,
 Just a groovy little motorbike.
 It's more fun than a barrel of monkeys,
 That two-wheeled bike.
 We'll ride on out of the town
 To anyplace I know you like.


Crendence Clearwater Revival

***

Jika berpijak pada kelas sosial dari penganut kultur Rocker di London tahun, 60an, maka di Indonesia saat ini motor yang memungkinkan untuk menunjang identitas tersebut ialah Honda CB, CG, GL 100, atau motor Jepang model sejenis dengan merek lainnya seperti, Suzuki, Yamaha, dan sebagainya. Tak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan pengguna motor Honda CB belum tentu seorang 'Rock Enthusiast', karena kebanyakan mereka, terutama yang tumbuh dari komunitas bengkel, biasanya tidak memilih sepeda motor karena alasan kultural, identitas, dan fesyen, namun hanya berdasarkan kesenangan bongkar pasang mesin dan aksesoris motor. 

Maka bukanlah hal yang aneh jika mayoritas para 'biker' ini lebih asyik masyuk menikmati sajian musik Hot Koplo, Sexy Dancer dengan Disc Jockey Kabupaten setempat, atau mengidolakan band-band pop macam Ungu, ST 12, Wali, dan sejenisnya. Hal tersebut setidaknya saya lihat saat band saya Kiki & The Klan tampil di depan puluhan ribu biker di Kaliurang akhir Maret lalu. Dari puluhan ribu penonton yang hadir dari berbagai kota dan kabupaten se Indonesia Raya pada acara Rendezvous: Sewindu HCCS (Honda CB Community Sleman), mungkin hanya ratusan yang menikmati sajian Rock & Roll yang kami mainkan. Sedangkan ribuan lainnya tak sabar ingin menikmati hiburan dangdut koplo, dan sekitarnya. Sungguh hal tersebut amat tidak mengapa, wajar, toh saya juga tidak sedang melakukan infiltrasi dalam hal budaya. "Namanya juga Sab Kalcer," ;p

Johnny Depp (Cry Baby - 1990)
Me with original Honda CG 1979
Maka jika menunggangi sepeda motor ialah 'wajib' bagi seorang rock enthusiast, maka di Indonesia memiliki motor jenis Harley Davidson, Triumph, Norton, BMW, BSA, dan sejenisnya ialah ibarat seorang muslim menunaikan ibadah Haji ke Mekkah, alias hukumnya 'Jika Mampu!' :)  

Berbicara tentang fesyen atau kendaraan sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang sangat erat dengan diri kita. Mengutip dan membajak kata-kata Thomas Carlyle, bahwa pakaian (termasuk kendaraan) menjadi “perlambang jiwa” (emblems of the soul). Kendaraan bisa menunjukkan siapa pemakainya. Bahkan jika kita bukan tipe orang yang terlalu peduli soal tata busana, orang yang bersua dan berinteraksi dengan kita tetap akan menafsirkan penampilan kita, seolah-olah kita sengaja membuat suatu pesan.


Elvis with Honda
Bisa dikatakan meski sepeda motor itu fesyen, tapi tidak semua sepeda motor itu fashionable. Begitu pula halnya meski semua sepeda motor akan menghadirkan gaya tertentu, tapi tak semua gaya itu akan menjadi fesyen. Kendaraan bermotor ternyata bisa menunjukkan identitas kultural pemakainya. Orang membuat kesimpulan tentang siapa anda, sebagiannya juga lewat apa yang anda kendarai. Apakah kesimpulan tersebut terbukti akurat atau tidak, tak ayal ia akan memengaruhi pikiran orang tentang anda dan bagaimana mereka bersikap pada anda. 

Akhirnya, kelas sosial anda, bagaimana serius atau santainya anda, sikap, afiliasi politik anda, keglamoran atau keeleganan, sense of style dan bahkan mungkin kreatifitas anda akan dinilai dari cara anda memilih kendaraan. "You're What You Ride!" (*)

John Winston Lennon dengan HD Tiga Roda :))


*Dikutip, disunting, dicomot, dan dibajak dari berbagai sumber ! 



You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured