Perubahan Sosial Dimulai Dari Pos Kamling

/
0 Comments
‘PRAJURIT KALAH TANPA RAJA’

PADA sebuah cakruk atau Pos Kamling di Kampung Minggiran, Yogyakarta terdapat mural bergambar beberapa prajurit Kraton, wajah mereka tampak sedih, seolah kehilangan harapan. Di dada mereka tertancap anak panah, seolah para prajurit tersebut sedang kalah berperang. Di sisi lainnya tampak gambar prajurit Mantrijero yang sedang lunglai nyaris terkapar yang dipapah oleh seorang kawannya. Terdapat juga puisi berbunyi “Siapa lagi yang berjaga, Setelah kami tak ada” karya sastrawan Gunawan Maryanto.


Mural tersebut merupakan bagian dari serangkaian karya berjudul ‘Prajurit Kalah Tanpa Raja’ karya seniman muda bernama Prihatmoko Moki. Menurut Moki prajurit adalah representasi dari masyarakat Yogyakarta dan Raja ialah perwakilan para elit penguasa. Karya tersebut adalah metafor dari situasi di kota Jogja saat ini. Itulah keadaan Jogja saat ini dimata sang seniman. Rencananya gambar serupa juga akan dibuat di wilayah kampung lainnya sesuai dengan nama prajurit Kraton seperti, Kampung Daeng, Prawirotaman, Patang Puluhan, Bugisan, Wirobrajan, Nyutran, dan lainnya.


‘Prajurit Kalah Tanpa Raja’ adalah karya seni yang menceritakan tentang permasalahan sosial yang terjadi di Yogyakarta. Menurut Moki, pada situasi saat ini perkembangan kota Jogja sudah sedemikian carut marutnya, mulai dari buruknya tata kota dan sarana publik, banyaknya polusi udara, kemacetan, minimnya  keamanan, sampai ketimpangan sosial antara kaya dan miskin. “Alih alih kota Jogja sebagai kota budaya yang warganya hidup tentram menghargai budaya dan tepo sliro antar sesama menjadi rusak dan berangsur hilang, demi kepentingan beberapa orang yang mau menggunakan wajah Jogja sebagai kota budaya untuk meraup uang sebanyak banyaknya,” tuturnya.

Menurut Moki keadaan ini menegaskan bahwa pemerintah kota Jogja terlihat tidak bertanggung jawab untuk mengurusi kotanya. Posisi Kraton Jogja yang semestinya mengayomi warganya seolah olah juga tidak terjadi. Karya ini adalah cerminan dari keadaan tersebut, ‘PRAJURIT’ adalah perwakilan dari warga Jogja sendiri, sedangkan ‘RAJA’ adalah perwakilan dari pemerintah kota dan beberapa orang penting yang mempunyai wewenang untuk memimpin kota Jogja.

Pameran Indonesia Berkabung

Ide mural ini bermula dari pameran Indonesia Berkabung yang digelar tahun lalu. Pameran tersebut mengekspos beragam permasalahan di Indonesia, mulai dari kasus korupsi, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Pada kesempatan tersebut Prihatmoko Moki memilih untuk mengangkat tema tentang Keistimewaan Yogyakarta, yang ternyata juga berdampak pada permasalahan sosial. Ia merealisasikan karyanya lewat poster yang dicetak sebesar delapan meter, dengan berbentuk seperti sampul komik. 

Karya tersebut kemudian banyak direspon dan didukung para seniman lain. Maka Moki membuat karya tersebut lewat bentuk lainnya seperti cergam, yang ia unggah ke sosial media.Tawaran berkolaborasi pun kemudian datang dari sastrawan Gunawan Maryanto untuk membuat narasi ceritanya. Di sela kesibukan masing-masing, karya ini terus berjalan dan dibuat edisi komik. Dalam waktu dekat komik tersebut akan dicetak dan bisa dinikmati publik yang lebih luas.


Pada perkembangannya Moki berpikir bahwa komik tersebut ialah cerita yang terjadi di warga Jogja sendiri. Karenanya kurang mengena cara penyampaian pesannya jika hanya didistribusikan lewat sosial media. Maka ia memutuskan untuk membawa karya tersebut ke jalanan, di ruang publik. Gambar di Kebun Bibi, Minggiran menjadi pilot project untuk edisi mural.Karena konten isunya, Redbase kemudian tertarik untuk memamerkan di galerinya. Maka Moki membuat karya tersebut lewat medium lain seperti, seni lukis, gambar cat air, dan karya video yang bekerja sama dengan Kikiretake.


Selesai pameran, karya ini pun kembali dibawa ke kampung-kampung lewat karya mural di Pos-Pos Kamling. Menurut Moki karya ini akan lebih kongkrit jika ditempatkan di tengah masyarakat. “Menarik juga menjadikan cakruk sebagai medium seni, interaksi sosial dengan masyarakat pun menjadi menarik,” ujarnya.
Warga pun tertarik membantu dan bergotong royong menghias cakruk mereka. Hal ini bukan hanya karena gambarnya yang artistik, namun juga terletak pada isi kandungan pesan didalamnya, hal ini seperti yang dikatakan oleh Ratno Saputro, ketua pemuda Minggiran RT 63, RW 17. 


 

Untuk merealisasikan karya ini Moki sengaja menggaet pemuda sekitar. Menurut Moki karya ini akan mudah masuk ke kampung-kampung asalkan temanya mewakili masyarakat. “kalau merasa terwakili, mereka akan terus menjaga dan menghargai karya ini,” kata seniman kelahiran Yogyakarta 1982 ini. Karena dukungan yang didapat dari masyarakat, maka Moki sebisa mungkin menggunakan gaya bahasa yang berjarak dengan masyarakat, “Saya berusaha sebisa mungkin mengonstruksi sedemikian rupa agar karya ini bisa dimengerti oleh publik awam,” jelas Moki.


Seperti puisi karya Gunawan Maryanto yang tertulis pada mural, 
“Satu satu kami tumbang 
Menghadang musuh datang. 
Duh, Raja yang tak ada 
Kami pamit pralaya”. 


Prihatmoko Moki ialah seniman muda lulusan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta ini fokus pada teknik silkscreen untuk merealisasikan karyanya. Pada tahun 2012 bersama Malcolm Smith dan Rudi Hermawan, ia mendirikan Krack! Sebuah studio dan galeri yang fokus pada karya seni cetak. Ia juga aktif mengorganisir dan menjadi kurator untuk LELAGU, sebuah ajang seni yang mengombinasikan pertunjukan musik akustik dengan aksi gambar langsung di Kedai Kebun Gallery, Yogyakarta. Sejak 2006,  Moki menjadi bagian dari proyek seni multi disiplin PUNKASILA, yang telah menggelar pertunjukan di berbagai negara di antaranya, Australia dan Kuba. (*)


You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured