Pink Is Punk!

/
0 Comments
Warna pink (merah muda) saat ini identik dengan kaum hawa. Karenanya tak jarang kalo ada laki-laki pakai wardrobe dan aksesoris bernuansa pink, kebanyakan orang disekitarnya pasti ada aja yang melirik; entah karena terkesima, gumun, heran, kaget, bahkan ada juga yang nyiyir.  Stigma warna pink yang identik dengan feminim sesungguhnya tidak terjadi begitu saja, kebudayaan memang selalu berputar. Tahun 1950an Pink menjadi kesukaan kaum pria. Hal-hal yang terkait dengan warna tersebut menjadi simbol maskulin. Di era itu mobil Cadillac berwarna Pink (Pink Cadillac) menjadi mobil yang paling banyak diminati para lelaki. Sang Raja Rock & Roll Elvis Presley pun identik dengan mobil 'Pink Cadillac'-nya.




Johnny Thunders sebagai Johnny Valentine di filem 'Mona et Moi'

Menurut beberapa sumber, ada beberapa negara yang menggunakan warna Pink sebagai warna maskulin. Di Jepang, Bunga Sakura yang mekar dan berwarna pink diasosiasikan sebagai perwujudan dari ksatria muda yang maju berperang demi meraih tujuan hidupnya sebagai seorang samurai sejati.
Dilansir dari page Sejarah DuniaSejak Leon Battista Alberti memperkenalkan Teori Warna (Color Theory) tahun 1435, warna Pink sudah dideskripsikan dan disebut sebagai Warna Maskulin. Leon Battista Alberti adalah seorang penulis asal Italia, seniman, arsitek, penyair, pendeta, ahli bahasa, filsuf, kriptografer. Meskipun ia sering disebut sebagai "arsitek" eksklusif. ia memang merupakan tokoh yang terkenal dengan Teori Historia, yaitu teori yang menggabungkan orang, binatang dan bangunan yang menciptakan harmoni satu sama lain di dalam sebuah lukisan.


Dipilihnya warna Pink sebagai warna maskulin karena warna tersebut sangat tegas dan keras, sehingga cocok dengan jiwa Pria. Sedangkan warna biru terkesan lebih lembut, cantik, dan halus, sehingga sangat cocok untuk jiwa Wanita yang feminim. Pink adalah warna yang berada di antara ungu (violet) dan merah. Nama warna Pink berasal dari Pinks, nama bunga dari genus Dianthus.
Masih dari laman yang sama, di era 1960an, mulai terjadi pergeseran di mana warna Pink dianggap sebagai warna Feminim dan warna Biru sebagai warna Maskulin. Tidak jelas bagaimana dan kapan pastinya perubahan itu terjadi, namun banyak orang menduga kalau perubahan itu terjadi setelah Nazi menggunakan lambang Segitiga Merah Muda (Pink Triangles) dalam Kamp Konsentrasi mereka untuk menandakan tempat penahanan kaum 'G'.





Sumber lain mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Amerika pada tahun 1980-an semakin menamcapkan doktrin bahwa warna pink adalah warna perempuan. Pada masa itu, banyak perusahaan yang menggembar-gemborkan bahwa warna pink itu untuk perempuan sementara biru untuk laki-laki. Mulai dari perkara mainan, baju hingga perabot dibuat dengan warna tersebut sebagai pembeda. Termasuk atribut untuk bayi.
Karena sejak kecil disodori realita bahwa biru untuk laki-laki dan pink untuk perempuan, maka tak heran generasi yang lahir 1980-an ke atas punya pola pikir bahwa pink itu warna perempuan. Makin ke sini konsep perbedaan warna itu semakin terpatri dalam segala aspek kehidupan. 
Sebenernya gak masalah sih, mau maskulin kek, feminim kek, kalau gak suka ya gak usah pake, kalo suka ya pake aja, meski dicibir kanan-kiri ya cuek aja. istiqomah! 
                                            ....karena Pink adalah Punk!















You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured