Jejak Dwitunggal Chrisye dan Yockie (1977-1984)

/
0 Comments
Sedari kecil saya sangat menyukai lagu-lagu Chrisye. Di setiap era, lagu-lagu Chrisye selalu menemani. Dari jaman bujang dan perawan, Bokap Nyokap selalu beli album apapun yang ada Chrisye-nya. Koleksi mereka bisa dibilang lengkap. Tapi seiring waktu, ada beberapa yang rusak dan hilang entah kemana. Baru-baru ini aja saya mulai berburu lagi karya-karya Chrisye terutama dalam bentuk kaset pita.




Karya-karya Chrisye yang paling saya suka itu yang ada sentuhan Yockie (Jockie Suryoprayogo)- nya. Sepanjang 1977-1984 Chrisye dan Yockie merupakan sebuah dwitunggal. Dalam berkarya bersama, keduanya mengalir begitu saja. Dari mulai lagu-lagu ciptaan Yockie dengan pendekatan easy listening hingga melebar menyentuh komposisi yang lebih progressive atau bahkan sedikit ‘rock’, Chrisye mampu menyanyikannya dengan baik. Tidak melulu bercerita tentang percintaan dua insan, karya mereka juga banyak mengisahkan kehidupan perkotaan dan fenomena urban lainnya, termasuk dekadensi anak muda, hingga cocaine, morfin, dan ganja.



Jejak kolaborasi mereka dimulai sejak kesuksesan lagu "Lilin-Lilin Kecil" di album kompilasi LCLR 1977, sejak itu Chrisye di'mbribik' Pramaqua Records dan menawarkan untuk merekam album perdananya. Chrisye dan Yockie pun merekam album 'Jurang Pemisah'.

Di album bernuansa Prog Rock ini, Chrisye mengisi vokal pada tujuh lagu, ia juga memainkan bass, sementara Jockie memainkan kibor, gitar dan drum, serta mengisi vokal pada tiga lagu. Ian Antono dan Teddy Sujaya memainkan gitar dan drum masing-masing untuk lagu "Mesin Kota" dan "Dia".
Album yang ini mengangkat tema-tema lingkungan dan politik ini menceritakan diskriminasi kelas yang menyebabkan jurang antara strata-strata sosial yang berbeda. Lagu "Jeritan Sebrang" dianggap sebagai potret dari pendukung Republik Maluku Selatan. Menurut Yockie, Jurang Pemisah merupakan sebuah potret realita sosial. 


Secara pasar, penjualan album ini terbilang jelek alias tidak laku. Dalam biografinya, Chrisye berkomentar bahwa Jurang Pemisah penjualannya "hangat-hangat tahi ayam". Meski abum ini tidak mendapat pujian setelah dirilis, namun saat ini 'Jurang Pemisah' merupakan salah satu album yang diburu para kolektor. Beruntung, gue punya dua tuh. 😂😝

Selanjutnya bersama Eros Djarot, Dwitunggal tersebut mengerjakan album 'Badai Pasti Berlalu', tercatat Fariz RM turut mengisi part drum untuk album fenomenal ini. Awalnya mereka tidak mengira bahwa album yang merupakan soundtrack untuk film berjudul sama ini meraih kesuksesan yang hebat. 'Badai Pasti Berlalu' merupakan album revolusioner yang menggiring selera musik pasar dari pop melankolis ke pop kreatif.


Seperti yang pernah ditulis Yockie di sebuah portal, kala itu pedagang atau industri tak mempunyai peran apa-apa untuk menentukan bentuk lagu yang akan mereka ciptakan. Dwitunggal ini relatif dengan leluasa bisa bermusik sesuka-suka hati. Mereka juga menjalani pergaulan anak muda di masa-masa itu dengan segala kerendahan hati tanpa ada yang merasa “lebih” diantaranya.
Namun, setelah industri mulai merangkul mereka berdua, dan bertepatan dengan menanjaknya usia dimana keduanya sudah mulai berpikir serius untuk menempuh masa depan masing-masing. "Tidak adanya sebuah “konsep” yang bisa dijadikan sandaran/rujukan kerjasama kedepan, telah membuat kami mulai terpisah pisah dan tanpa disadari mulai mementingkan kepentingan masa depan sendiri-sendiri," tulis Yockie.

Sebagai anak muda saat itu, Yockie mengaku memang cenderung lebih lambat menyadarinya, atau memang begitukah dan seperti itukah hukum alam yang pasti akan berlangsung. "Semoga saja tidak dan semoga saja pengalaman pengalaman seperti diatas bisa bermanfaat sebagai masukan bagi generasi muda sekarang," kata Yockie.

Yockie mulai merasa kehilangan Chrisye semenjak tahun 1983, dimana kerja kreativitas keduanya praktis terputus sama sekali. "salah satu faktor penyebabnya adalah mengangkangnya industri di atas kepala almarhum (Chrisye) dan saya. Karena itu pula saya terpaksa masih sering menyanyikan sendiri lagu yang saya ciptakan. bukan karena saya tidak tau diri bahwa suara saya “nggak enak dikuping”, atau saya pengen populer jadi penyanyi . Tetapi itu semua saya lakukan lebih karena saya belum menemukan dan masih mencari karakter suara dan cita rasa seperti yang dimiliki Chrisye , tidak harus ‘plek’ sama namun minimal pendekatan ‘citarasa’ nya sama," tutup Yockie. (*)



Me and Yockie himself


You may also like

No comments:

#Copyleft: Silakan Membajak Sebagian atau Keseluruhan Teks dan Foto yang ada di kikipea.com. Powered by Blogger.
Featured