Sunday, April 3, 2016

Sepeda Motor, Fesyen, dan Maskulinitas Rock & Roll

Fesyen menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian kita. Fesyen tidak hanya menyangkut soal busana dan aksesoris pendukungnya, seperti kalung, gelang, hingga body piercing dan tato. Jauh dari itu, benda-benda fungsional lain yang dipadukan dengan desain yang unik lagi canggih, menjadi representasi si pengguna. Bermacam jenis kendaraan seperti motor, mobil, sepeda, bahkan kuda, dan lainnya bukanlah sekadar alat transportasi belaka, lebih dari itu, kendaraan juga menjadi sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan identitas seseorang. Singkatnya, fesyen adalah perlambang jiwa, dan tak bisa di pisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia. 


Penggunaan kendaraan merupakan salah satu cara berekspresi. Dalam modernitas, fesyen adalah konstituen penting identitas seseorang, yang membantu menentukan bagaimana dia dikenali dan diterima. Mari menyoroti bagaimana kendaraan, dalam hal ini sepeda motor sebagai fesyen pada kultur Rock & Roll, melalui bagaimana cara para pengusungnya menggunakan kendaraan sebagai sebuah identitas. Para bintang rock, termasuk beberapa geng motor dengan pilihan kendaraan roda dua mereka setidaknya bisa menjadi representasinya.

Satu di antara gaya motor yang dipopulerkan di London pada tahun 50-an adalah café racer. Gaya ini berawal dari para biker yang mengiginkan motor cepat dan digunakan untuk balapan dari café ke café. Mereka menggunakan cafe sebagai titik start dan finish-nya. Faktor utama terbentuknya kultur Cafe Racer atau Rocker adalah booming-nya budaya anak muda dan ‘anti-heros’ yang baru pada tahun '50-an. Saat itu adalah gencarnya raungan musik yang dipopulerkan penyanyi seperti, Eddie Cochran, Elvis Presley, dan Gene Vincent di radio-radio. Selanjutnya, Rock & Roll menjadi ancaman baru bagi masyarakat. 
Elvis Presley with Black Leather & Motorcycle

Marlon Brando (The Wild One - 1953)
Di dunia sinema, Marlon Brando, James Dean dan ikon ‘rebel’ lainnya menyemarakkan layar perak dengan gaya jaket kulitnya. Tentunya ini membuat sepeda motor dengan lifestyle-nya yang khas dipandang 'cool'. Era 50-an memang sudah berlalu, namun sub kultur tersebut masih eksis. Irama rockabilly, doo wop, swing, hingga surf rock telah menjadi soundtrack para bikers sejak masa lalu, dan hingga kini bersamaan dengan banyaknya event otomotif, jenis musik yang populer di era 40an hingga 60an itu tetap membuat para bikers bergoyang.

Subkultur Rockers diisi oleh Ton-up Boys jumlahnya terus bertambah selama medio 1950an. Karena penampilannya berantakan, mereka sering dicap sebagai golongan pemuda-pemuda 'naif'. Anggapan itu semakin dipertegas oleh pandangan mereka yang melihat obsesi pada fesyen sebagai hal yang lebih jauh dari kesan maskulin. Bertolak belakang dengan yang dilakoni oleh subkultur Mods. Kalau subkultur Mods lebih sering terlihat berdandan smooth and clean, tak begitu dengan Rockers. Penampilan Rockers identik dengan jaket motor berbahan kulit dengan kancing logam. Berbagai emblem, pin, dan lencana ikut menghiasi jaket tersebut. 

Rockers - Leather Boys - Cafe Racers - Ton-up Boys
Saat berkendara, Rockers kerap menggunakan syal putih, aviator google, dan helm terbuka. Untuk gaya rambutnya, Rockers sering terlihat dengan potongan pompadour. Tempat yang jadi ikon subkultur Rockers sampai sekarang adalah Ace Cafe dan Chelsea Bridge. Pada masanya, Rockers tak diperbolehkan menginjakkan kaki di lantai dansa karena gaya pakaiannya yang tak sesuai dan kotor. Tapi, Rockers punya kontribusi besar dalam perkembangan dansa dansi Rock & Roll.

Rockers menggunakan sepeda motor yang komponennya sudah dipereteli. Mereka melakukan penyetelan ulang, lalu mendandaninya agar tampil seperti motor balap. Rocker tidak hanya menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi tapi juga simbol maskulinitas. Mereka percaya motor merupakan objek yang bisa menggambarkan lekatnya kehidupan mereka dengan bahaya. (*)

Dave Vanian (The Damned) pada acara reuni
Ace Cafe tahun 1996




No comments:

Post a Comment

Featured